Romantisisasi Generasi 90-an

by - Agustus 09, 2020

Kenapa sih generasi 90-an suka meromantisisasi masa-masanya?

Bahasan tentang masa-masa kecil atau masa remaja yang indah sepertinya nggak pernah bosan buat jadi topik utama dalam sebuah obrolan. Seringkali saat sedang reuni, obrolan tentang mengingat masa-masa lampau selalu menarik buat dikenang. Apalagi untuk generasi 90-an dan 2000-an, atau generasi milenial yang tumbuh di antara dua era, rasanya membandingkan antara zaman mereka dimana teknologi tidak semasif seperti sekarang adalah sebuah ulasan wajib yang gak bisa dihindari.

Gue sebagai anak yang tumbuh di tahun 2000-an dan dekat dengan generasi 90-an ini merasa relate kalau udah membahas tentang zamannya MTV nge-trend banget di TV, mulai dari MTV Bujang, MTV Salam Dangdut, MTV Getar Cinta, MTV Global Room, dan MTV Ampuh yang semuanya senantiasa diisi sama VJ-VJ keren nan hits, pun kalau membahas soal program televisi lain yang sifatnya anak muda abis atau bahkan anak-anak dan keluarga, seperti Planet Remaja: Peace, Love, aand *kecup jari* Gaul! (siapa nih yang suka ikut-ikutan gaya ini kalau di sekolah?😂), Komunikata, Tralala Trilili, Kring....kring Olala, Berpacu Dalam Melodi, Kuis Siapa Berani, Who Wants to be Millionaire yang dipandu oleh Tantowi Yahya (beberapa termasuk acara 2000-an banget sih, karena gue anak 2000-an jadi referensinya banyak disana hehe maafkan✌🏻), dan kartun-kartun di hari minggu, telenovela yang merajalela, sinetron-sinetron hits semacam Tersanjung, Cinta, Bidadari, Tuyul dan Mbak Yul, Keluarga Cemara, Jin dan Jun, Disini Ada Setan, 

serta sitkom-sitkom legendaris kayak Bajaj Bajuri, Spontan Uhuy!, sampai ke acara masak di hari minggu yang selalu ditunggu mama-mama seperti Aroma yang dibawakan oleh bu Sisca Soewitomo, Selera Nusantara, Rahasia Dapur Kita, dll, ditambah nama-nama permainan yang gak kalah nge-trend menghiasi zaman itu seperti Yoyo (ingat banget dulu sering banget diketawain sama tante gara-gara main yoyonya gak bener haha), Dakocan, mainan gelembung karet yang bentuknya mungil-mungil dan kalau udah ditiup biasa ditempelin ke wajah, mainan BP/boneka kertas, kapal-kapalan yang bunyinya tok-keletok-keletok, lompat karet, kelereng, ketapel bambu yang pelurunya diisi sama kertas yang dibentuk bulat kecil, gameboy (ini entah kenapa gue dulu nyebutnya jimbot), Nintendo, Tamagotchi, permainan ular naga yang dilakukan ramai-ramai, engkle, egrang, congklak, sampai bola bekel, rasanya kita seperti diajak berlomba-lomba supaya bisa menyebut satu nama dari sekian nama yang ada. Banyak banget, kan, ternyata! Segini masih banyak yang belum ditulis, fiuh.

Kenapa sih generasi 90-an suka meromantisisasi masa-masanya?

"Kenapa sih generasi 90-an begitu meromantisisasi masa-masanya?" tanya si Generasi Z.

Sebelum itu gue mau ngasih tahu dulu, kenapa gue pakai kata romantisisasi instead romantisasi? Awalnya gue terbiasa bilang romantisasi sih, tapi sebetulnya ini salah. Setelah gue cari-cari di KBBI, yang benar adalah romantisisasi. Karena kata romantisisasi sendiri berasal dari kata serapan bahasa Inggris romanticization yang ketika diubah ke dalam bahasa Indonesia menjadi lebih pas romantisisasi, sama seperti spesialisasi dan generalisasi. Dalam KBBI, hanya dapat ditemukan imbuhan -isasi yang konon sudah ada sejak zaman Belanda, yang kalau diartikan maknanya menjadi pengidealan, atau perlakuan sebagai sesuatu yang romantis. Jadi, yang lebih tepat adalah romantisisasi, bukan romantisasi, karena kalau romantisasi maka imbuhannya adalah -asi yang mana tidak ada dalam KBBI.

Anyway, tulisan ini nggak ada kaitannya dengan buku Generasi 90-an karya Marchella FP. Gue justru terinspirasi dari karya-karya beliau dan bertanya-tanya, kenapa sih topik soal ini justru banyak sekali peminatnya? Bahkan beberapa kali ada event yang berkaitan dengan nostalgia dengan tema mesin waktu yang juga diusung oleh komunitas generasi 90-an yang digagas oleh Mba Marchella.

Well, sebetulnya gue merasa adanya generasi X, Y, Z dan lainnya secara nggak langsung mengkotak-kotakan kubu antara usia sekian dan usia sekian, juga zaman sekian dan zaman sekian—walaupun memang tujuannya itu. Maksud gue, gue merasa dengan adanya generasi-generasi tersebut kita jadi menjauhkan diri satu sama lain dari orang-orang yang generasinya berbeda dengan kita dan bahkan membangun batasan setinggi-tingginya. Gak jarang ada orang-orang yang skeptis duluan kalau mendengar asal seseorang dari generasi dan lahir di tahun yang berbeda dengan dirinya, seakan-akan generasi itu otomatis bisa membentuk pemikiran dan karakteristik seseorang. Namun di saat yang bersamaan, menyebut tentang generasi dan mengenang sesuatu yang lahir di eranya adalah sesuatu yang menyenangkan buat dibahas.

Gue personally, seringkali merasa semangat kalau ngomongin tentang masa-masa di bawah tahun 2010-an, ketika gadget dan internet nggak mem-booming seperti sekarang. Siapa sih yang waktu kecilnya nggak senang main petak umpet, main sondakh, main tamiya, main barbie, main kucing-kucingan sampai maghrib baru pulang? We were all have those childhood moments weren't we?

Tapi seperti apa yang ditanyakan oleh Gen Z, gue pun seringkali mempertanyakan hal tersebut ke diri gue. Kenapa sih senang banget kalau ngebahas tentang hal-hal menarik zaman dulu? Apa iya gue nggak bisa lari dari masa lalu? Apa iya gue terlalu mengglorifikasi era 90-an dan era 2000-an, bahkan overproud sama masa-masa pertumbuhan gue?

Ternyata jawabannya sederhana. Gue terlalu lelah dengan kondisi di zaman sekarang yang membuat semuanya tampak terlihat jelas karena internet dan platform seperti media sosial. Gue pun merindukan kejayaan tayangan televisi yang gak lebay, edukatif, dan berkualitas. Seringkali gue mengeluh karena melihat tayangan televisi kita yang semakin kesini tampak semakin tidak kreatif. Oleh karena itu, gak bosan-bosan gue mengeluh soal pertelevisian beberapa kali di blog ini.

Baca jugaManusia Kaleng

Aneh, kan? Bukannya berkembang maju, justru nilai-nilai dari tontonan yang ada malah masih terasa sama seperti sepuluh tahun lalu, dan sedihnya seperti berkurang. Mungkin keberadaan platform seperti YouTube dan Instagram yang menawarkan lebih banyak keunggulan bikin para kreatif di industri pertelevisian ini kewalahan buat ngikutin. Akhirnya tontonannya banyak yang hanya mencomot dari hal-hal viral yang terjadi di dunia maya. Instead of fokus membenahi tayangan yang tidak sedap dan selalu terkesan dipaksakan tayang, malah fokus mengejar rating, rating, dan rating, dengan dalih mengikuti selera pasar. Padahal statement tersebut sama saja beranggapan bahwa masyarakat kita terlalu bodoh untuk dikasih tayangan yang variatif seperti drama Korea dengan banyak genre dan sinematografi yang mumpuni. Bukan soal selera masyarakat, tapi memang jiwa kapitalisnya aja yang sulit berubah. Padahal logikanya kalau tahu selera masyarakat buruk yaa diubah dong biar jadi lebih bagus. Iya gak, sih? Hal ini sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh Mas Roy, pendiri Remotivi di salah satu artikelnya, Menguji Logika Pandji.

Mungkin karena hiburan kita dulu benar-benar terbatas antara main di luar atau main di rumah, dan sisanya nonton TV, gue pribadi merasa siaran televisi benar-benar memberi pengaruh dalam proses tumbuh kembang gue. Sehingga apapun yang berkaitan dengan nostalgia 90-an atau 2000-an, mungkin kalian pun ingatnya gak jauh-jauh tentang tayangan televisi favorit di zaman dulu. Sebab memang jenis-jenisnya sendiri penuh warna. Bayangin, dulu tuh kayaknya dari usia balita sampai tua ada tayangan favorit masing-masing, dan isinya gak melulu infotainment gosip yang menayangkan hidup artis, tapi banyak pilihan. Acara anak ada (bahkan lagu anak-anak juga bisa dengan mudah kita jumpai), acara anak tanggung sampai remaja pun ada, acara orang dewasa yang tayang di jam-jam tengah malam pun ada, bahkan sampai acara memasak, yang semuanya konsisten tayang hampir di setiap stasiun televisi dan di jam yang sesuai.

Sebetulnya, setelah mengobservasi dan mencari tahu lebih lanjut, selain keluhan di atas, gue nggak menemukan jawaban lain kecuali hanya untuk bernostalgia atau mengenang masa-masa remaja. Dulu orangtua kita pun sepertinya sering menceritakan bagaimana kehidupan mereka di era 70-an dan 80-an berjalan, bahkan gue sering juga diceritakan oleh eyang gue sebelum tidur tentang masa mudanya dulu saat tinggal di zaman Presiden Soeharto, dimana Jakarta masih banyak pohon-pohon besar dan banyak kuntilanak yang berkeliaran (sekarang mungkin udah terhalang gedung-gedung tinggi), dan dimana kejahatan pun rasanya selalu melekat di telinga masyarakat. Yah, walaupun sampai sekarang kejahatan yang dilakukan manusia, entah bunuh-membunuh atau perampokan masih merajalela, dulu lebih parah karena dipengaruhi juga oleh situasi politik yang tampak jelas tidak sehatnya, *kayaknya memang separah itu ya zaman orde baru.

Gue pun sering membicarakan masa kanak-kanak ini dengan teman-teman juga kerabat dekat, bahkan seringkali tenggelam di dalamnya, saking banyak sekali cerita tentang kami yang tidak ditemukan pada anak-anak generasi sekarang.

“Dulu tuh kayaknya kita kecil bahagia banget ya, main lompat tali sama petak umpet gak tau waktu."

"Kayaknya anak-anak dulu pada jadi ekstrovert kali ya. Jangankan sama temen di komplek dalam, sama anak komplek luar aja sampe kenal saking sosialisnya!”

“Eh iya, lho! Kalo anak sekarang sih mainnya gadget, boro-boro kenal yaa sama anak-anak komplek.”

Gue cuma bisa "hmm" aja sih kalau udah sampe situ obrolannya. Tanpa bermaksud membandingkan, sebenarnya perbedaan zaman itu memang gak bisa dipungkiri. Sekarang memang eranya teknologi, gadget dimana-mana, semua dilakukan serba daring, gaya hidup pun pasti akan berubah mengikuti alur ini. Wong namanya juga globalisasi, nggak cuma Indonesia, semua negara mengalami hal yang sama. Bahkan gue juga sering menemukan postingan orang-orang luar di media sosial yang kerap bernostalgia dengan membagikan memes tentang hal-hal yang dilakukan anak kecil di era 90-an dan 2000-an.

Sebab gue sering juga nih nemu orang-orang yang merasa dirinya adalah generasi emas karena tumbuh atau lahir di era 90-an, kocaknya justru yang mengaku generasi emas ini adalah barisan orang-orang yang lahir di 90-an tapi tumbuh di tahun 2000-an, padahal era 2000-an ini masuknya udah zaman milenium walaupun teknologi memang gak langsung pesat perkembangannya.

"Generasi 90-an emang terbaik!"

"Kasihan sama generasi sekarang, gak punya masa kecil yang bahagia."

"Gue dong, masa kecil gue bahagia, gak banyak main gadget, tapi udah gedenya melek teknologi!"

Iye, malih, terserah lo aja dah. Bernostalgia boleh banget kok, tapi akan lebih bijak kalau kita gak merendahkan kaum lain atau generasi lain yang memang berbeda zamannya dengan kita, hanya karena merasa superior dan punya segalanya yang gak dimiliki si Gen Z ini. Lagi-lagi "superior" penyebabnya. Kenapa ya manusia hobi banget ngerasa lebih tinggi derajatnya daripada orang lain🤦🏻‍♀️. Padahal 90-an sendiri ogah kali dibawa-bawa tahunnya sama orang yang ke-PD-an macam gitu.

Namun, berkaitan dengan keluhan gue yang kecewa dengan program-program televisi yang effortless, dan gue yang lelah dengan paparan internet yang seperti tiada henti menghiasi hari, gue melihat ajang bernostalgia ini sebetulnya bisa merupakan bentuk sindiran, atau bahkan peringatan. Untuk apa? Untuk kita refleksi atas berbagai hal. Apakah kondisi dulu dan kini membawa perubahan yang baik atau nggak? Apakah tayangan televisi yang berjalan sekarang ini masih produk yang sama seperti dulu atau justru berubah ke arah yang lebih baik? Dan perubahannya sendiri apakah sejalan dengan waktu yang sudah dilewati? Seberapa banyak? Gak cuma untuk program televisi aja sih, ya. Untuk semua aspek, seperti gaya hidup yang kita jalani sekarang. Apakah kehidupan virtual ini benar-benar memberi pengaruh baik dalam kehidupan kita? Apa justru kita malah jadi lupa caranya berkehidupan sebagai makhluk sosial yang harus berbaur juga dengan alam sesekali dan makhluk sosial lainnya?

Kok terlalu banyak pertanyaan ya, hehe. Ya memang gue rasa penting untuk kita selalu mempertanyakan tentang hidup ini, semata-mata agar masing-masing dari kita bisa mengevaluasi untuk berubah menjadi lebih baik lagi. So, kegiatan meromantisisasi ini seharusnya nggak cuma jadi cerita kenangan alias ajang nostalgia saat reuni yang hanya jadi angin lalu, melainkan bisa jadi bahan refleksi atas apa-apa saja yang sudah berjalan sejauh ini. Apa yang harus diperbaiki dan apa yang harus ditingkatkan. Berkembang dan hidup mengikuti zaman memang gak ada salahnya, bahkan sebuah keharusan supaya kita bisa terus beradaptasi untuk kejutan-kejutan lain di masa yang akan datang, namun gue harap kita juga nggak begitu saja melupakan nilai-nilai baik yang sudah ada sejak zaman dulu. Kalau sekarang kita berkutat dengan media sosial terus, gak ada salahnya sesekali simpan gadget kita dan menikmati permainan-permainan yang dulu sempat menghiasi masa kanak-kanak kita, entah dengan teman, anak, suami, atau saudara. Toh sekarang masih ada kok beberapa permainan zaman dulu yang dijual dan dikemas secara modern. Buat para orangtua pun, mungkin bisa memperkenalkan anak-anak sesekali saat di luar jam belajar dengan beberapa permainan tradisional yang bisa dilakukan dengan keluarga. Omong-omong, apa sih hal-hal favorit kamu semasa kecil di era 90-an atau 2000-an dulu?


Rekomendasi artikel terkait:

Mengapa Manusia Gemar Bernostalgia? - Tirto.ID

Apa Benar Generasi 90 Adalah Generasi Emas?

You May Also Like

29 komentar

  1. Well, tulisannya kubaca dengan penuh bayangan masa lalu. Kamu ternyata ngedepetin jg ya acara2nya anak 90an. Hihi.

    Dulu pas jaman2nya acara tv tsb aku bahkan ga punya tv, suka numpang di rumah sodara. Bayangin betapa seru dan ramainya. Jadi otomatis kita ngobrolin film ya nyambung. Eh pas th 2004 punya tv sendiri, ga nafsu sama sekali nntn tv karena sukany ganti2 channel dan ga ada temen.

    Anyway aku setuju nih sama Awl, romantisisasi segala sesuatu secara berlebih emang ga baik. Semua tetao ada plus minusnya.

    Thanks foe sharing this theme,Awl. Sukaaa deh beropininya ��

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wehehe iyaa nih mba, maklum aku dari kecil emang tumbuh bareng sama tante yg usianya terpaut 8 tahun, jadi roma-roma 90-annya ikut kena juga deh ngerasain😆

      Terkadang emang sesuatu lebih nikmat dilakukan beramai-ramai daripada sendiri ya mba😅 Entah kenapa serame apapun acara tv-nya, lebih mending ngumpul bareng temen walaupun acaranya agak boring. Karena yg penting kan momen barengnya itu, entah ngegosip, becanda, atau main-main lempsr bantal, hehe. Ah senangnyaaa, aku malah jadi kangen masa2 belum ada gadget😅😍

      Senang juga bisa berbagi mba Ghinaa, hihi, makasi banyak ya mba!🤗💕

      Hapus
  2. Setuju mba Awl, segala sesuatu yang berlebihan jatuhnya justru nggak baik, meski niatan awalnya hanya untuk nostalgia, tapi kalau ended up menghina atau diskredit generasi lainnya jadi nggak oke 😂 makanya kadang dulu saat masih sering baca-baca tulisan 90'an terus ada yang komentar begini begitu, saya jadi menyayangkan.

    Sayang saja nostalgia yang manis dan hangat berubah jadi ajang saling membandingkan. Dan perihal romantisisasi ini bisa jadi salah satu bahan perenungan pun saya sepakat. Karena memang sedikit banyak membantu kita berpikir, sudah adakah perubahan berarti dalam hidup kita? Semoga meski kita bahagia di masa silam, kita tetap bisa menemukan hal-hal yang membuat kita bahagia di masa sekarang 😁

    Terima kasih untuk tulisannya, mba 😍💕

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mba Eno, makanya saya suka agak kesal juga kalau ujung2nya malah ngejelekin anak-anak nowadays. Mending gak usah mulai nostalgia ya daripada harus merendahkan pihak lain. Kalau mau bernostalgia yang sedeng2 aja lebih baik, hehe, gak perlu dapet dosa juga karena merasa congkak😂

      Sejujurnya inipun memang berangkat dari kerisauan sendiri mba huhu, saat lg nostalgia gitu saya sering tenggelam dan merenung sendiri, apa aja perubahan yg sudah saya lakukan dan harus saya tingkatkan, dll. Daripada waktunya dihabiskan untuk membanding-bandingkan, saya rasa lebih baik begini😁 Aamiin, semoga kebahagiaan di masa lampau pun gak membuat kita tenggelam dan terpuruk dengan keadaan sekarang ya mba😂.

      Makasih juga mba Enoo🤗💕

      Hapus
    2. Baru mau komen kayak gini, eh ternyata udah ada komen Mba Eno yg bilang sama. Hehehe..

      Aku juga mikirnya, semua generasi punya kelebihan masing2. Dan semua orang cocok di jamannya.. dan tidak perlu jg membanding2kan dan merasa lbh baik.

      Tetapi nostalgia gini emank seruu yaa. Salah satu yg aku inget, dulu pas sekolah suka tukeran lertas binder yg lucu2. Sama tuker2an nulis biodata di buku. Maklum bl ada sosmed, jd 'About Me' di tulis di buku aja 😁

      Hapus
    3. Hehe iya mba Thessa, toh semua hal saya yakin ada bads dan goods-nya, tergantung perspektif kita bagaimana mau mengambilnya. Tapi harusnya bisa lebih bijak untuk gak hanya mengunggulkan salah satu, seperti kebanyakan "generasi 90-an" yg merasa lebih unggul dari generasi sekarang😟.

      Betul mbaa seru banget malah kayaknya😆 wah saya juga ngalamin lagi masa-masa tukeran kertas binder yg lucu itu, biasanya kalau kertas bindernya lebih tebel (dulu saya sering nyebut nama merknya, kertas Harvest) itu dituker sama dua kertas tipis wahaha, terus abis itu ikutan nulis biodata deh di bindernya temen😄 kalau dipiki-pikir ternyata dari dulu udah demen eksis ya mbaa, tapi medianya aja beda😆

      Hapus
  3. Baca tulisan ini bikin inget masa kecil yang dipenuhi oleh hal-hal sederhana, sesederhana main bareng dengan teman komplek.

    Setuju sih, zaman makin berkembang dan gak perlu membandingkan. Toh semuanya bakalan jadi masa lalu. Tapi aku seneng banget tentang permasalahan televisi, udah jarang nonton televisi karena acara yang dibawain sekarang itu udah kurang kreatif. Terlalu banyak gimmick yang bikin pusing. Sinetronnya juga terkadang semakin ngawur. Padahal awalnya bagus.

    Semoga tiap era itu cukup dijadiin pembelajaran masing-masing aja yaaa tanpa perlu membandingkan. Makasih tulisannyaa mbaa bikin inget masa-masa kecil dulu :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Itu dia tujuannya mba! HEHEHE. Pingin bisa mengajak yg baca nostalgia sejenak sama masa-masa main bareng temen komplek tanpa gadget atau komputer canggih😂

      Ternyata bukan saya aja yg merasakan perbedaannya begitu signifikan soal televisi ya, mba pun sama. Syukurlah berarti ada temannya, haha. Selama ini kalau saya ngeluh soal tv jarang ada yg mau komentar soalnya, paling jatuhnya sama aja kayak argumen yg sebut di atas, bahwa selera masyarakat rendah blablabla. Padahal ada andil dari pihak2 yg bekerja di bidangnya yg membuat beberapa kemunduran menjadi terasa berarti. Contohnya seperti kata mba, banyak acara televisi yg banyak gimmicknya dan bikin pusing gak ketulungan. Kalau gini terus gimana kita gak betah sama drakor ya mba😆 eh, btw mba Tika suka drakor juga nggak?

      Aamiin, semoga siapapun yg sering membanding-bandingkan jaman mereka dgn jaman skrg bisa lebih baik dalam menyikapi perkembangan zaman ya mba. Hihi sama-sama mbaa, senang juga bisa berbagi😁💕

      Hapus
    2. kalo drakor mah gak usah ditanyaa wkwkwk aku ngikutin banget malahaaan hehe. Meskipun harus streaming tp karena variatif dan kreatif jadi lebih menikmati drakor aja drpd yang lain

      Hapus
    3. Waah sama2 penggemar berat drakor inimaah, walaupun saya udah gak terlalu ngikutin drama2 yg baru karena kebanyakan judul yg interesting sampe2 gatau mau nonton yg mana😆. Kadang gitu ya mba, demi memperoleh tontonan yg bagus dan lebih bisa dinikmati kita rela kalau harus streaming, karena penggunaan kuotanya pun sebanding sama tayangan yg berkualitas.

      Hapus
  4. Eh iya, harusnya romantisisasi ya, aku juga abis ngecek dan diarahkan ke tweet-nya bang Ivan Lanin 😁

    Perkembangan zaman memang tidak bisa dihindari, hanya bisa diterima dan dinikmati masa-masa yang ada. Nggak semuanya harus dipahami kok, aku pun nggak maksa diri sendiri untuk memahami "enaknya" zaman orangtuaku dulu. Masalah perbandingan itu juga setuju, harusnya tidak perlu dilakukan, ya. Siapa bilang anak zaman sekarang nggak bahagia? Hihihi mungkin karena kita masih melihat generasi ini dengan kacamata lama, jadi ukuran bahagianya ketinggalan zaman juga 😅

    Setiap generasi pasti ada enaknya, ada kenangannya, ada juga pembelajarannya.

    Sudut pandang yang keren, Awl! Biasanya cuma ikut nostalgia kalau ngomongin ini, tapi malah mendapat perspektif yang baru. Thanks for writing this ya!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wkwkw iyaa mba Jane, aku pertama googling pun langsung nemu link yg ngarahin ke tweet bang Ivan Lanin, lumayan nambah referensi jd banyak😆

      Mungkin karena merasa spesial itu mba, jadi ngelihat generasi skrg tuh bawaannya negatiiif aja, gak bahagia lah, berandalan lah, padahal kan nggak juga😂. Masa mental state atau suasana kehidupan seseorang mau digeneralisasiin cuma dari generasi apa mereka tumbuh, hadeuuh.
      Betul seperti kata mba, perkembangan zaman ini pada akhirnya hanya untuk diterima dan dinikmati saja, bahwa sebelum masa-masa serba canggih seperti sekarang ada lho masa2 dimana kami bisa dengan bahagia bermain meski tanpa gawai dan laptop misalnya, kan cukup. Daripada harus cape sendiri membanding-bandingkan satu dengan yg lainnya. Toh yg terjadi skrg gak bisa diubah, apalagi dipaksakan untuk sama seperti dulu ya mba😁. Aku setuju banget setiap generasi pasti ada enaknya, ada kenangan, dan pembelajarannya. Jangan lah mikirnya ke negatif mulu, huhu.

      Ehehe makasi banyak mba Jane! Senang juga bisa berbagi sudut pandang disini🤗 Makasi juga untuk thoughts-nya ya mbaa😍💕

      Hapus
  5. Salah satu barometer saya agar tidak terlihat membandingkan adalah dengan kalimat: "lets confuse kids nowdays". Meskipun begitu, tidak ada rasa superior untuk merasa bahwa generasi yang dulu kita punya adalah satu-satunya genereasi emas. Setidaknya untuk sekarang, kita punya Tiktok, Instagram, dan apapun itu yang entah pada 20 tahun kedepan akan diemas-emaskan juga.

    Masalah pemadanan kata, saya tipe orang yang tidak puebi-able. Saya cenderung menggunakan kata dan kalimat yang terdengar enak ditelinga saya saja, apalagi untuk tulisan blog. Mungkin beda cerita kalau saya sudah berada pada lantai fakultas.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Confuse without underestimate one and another juga sah-sah aja mas Rahul, karena kan belum tentu niatnya mau membandingkan dan merasa superior. Bisa aja confuse ini bentuknya sebagai pertanyaan, apakah teknologi yg berkembang dan semacamnya dimanfaatkan dengan baik ya oleh generasi skrg🤔 jangan2 taunya cuma main instagram sama tiktok aja. Gak bagus juga kalau di masa dimana pengetahuan bisa lebih murah ini justru pengetahuan sendiri hanya terbatas pada media sosial yang ada. Nah mungkin disitu peran kita lah bisa mengingatkan atau mengajak mereka supaya lebih melek teknologi. Anyway saya sepakat, platform seperti instagram, yutub, facebook dan semacamnya pun saya yakin akan punya tempat sendiri beberapa dekade yg akan datang. Sebab saat itulah siklus yg sama jg pasti akan terjadi, toh kita hidup pun sebetulnya semacam mengulang pola yg sama berturut-turut kan😂 lahir, belajar, menciptakan, dan mati.

      It's okay mas, kadang emg yg terdengar yg enak gak sesuai sama kbbi juga. Sebetulnya saya lebih seneng kalo denger kata romantisasi wkwk, tapi semenjak getol nambah kosakata bahasa Indonesia baru mulai concern dengan KBBI. Ditambah lg proses membuat karya ilmiah jg kayanya jadi concern soal ini bertambah😂😁

      Hapus
  6. aku sudah bosan dengan narasi meromantisisasi generasi 90-an. dan kemudian membandingkan dengan generasi selanjutnya. Bahkan bilang generasi 90-an adalah generasi terbaik. Mungkin anak generasi 1990-2000 saat ini berada di usia emas atau produktif. Apalagi jumlahnya sangat banyak. Sehingga mereka akan ramai-ramai meromantisisasi generasi mereka. Padahal setiap generasi memiliki ceritanya masing-masing.

    Sebagai generasi 90-an, aku sangat menikmati masa kecilku. termasuk kenal dengan anak kampung sebelah. bermain bola hingga adzan maghrib membubarkan kami. Mencoba semua permainan yang sangat populer di masa-masa itu. Termasuk main game sega dan nitendo.

    saat aku kecil, aku juga diceritakan masa remaja ayah dan ibuku. Bagaimana mereka bermain, menjalani hidup di masa muda, hingga teman-teman mereka. Mereka juga bercerita tentang lagu-lagu yang populer di masa mereka. Dari sana aku mencari tahu lagu-lagu tersebut dan ternyata memang selera musik pada masa itu cukup bagus.
    Saat ini, aku dan saudara-saudaraku yang juga generasi 90-an sering bercerita tentang masa kecil kami kepada para keponakan kami. Agar mereka tahu banyak hal tentang generasi kami.

    setiap generasi punya ceritanya masing-masing.

    salam kenal mbak awl :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul kak, aku termasuk di antaranya yg gerah kalau ada narasi membandingkan dan mengunggulkan generasi 90-an. Padahal gak baik juga kalau kita selalu merasa menjadi yg "paling". Memang terkadang pasti ada rasa spesial sendiri bisa ngalamin masa-masa dimana belum ada internet canggih, gadget, dan lain-lain, tapi di sisi lain bisa juga ngerasain kemajuan seperti sekarang. Tapi akan lebih bijak rasanya kalau itu cukup disimpan jd cerita dan kenangan masing-masing, seperti kata kak Rivai, setiap generasi punya ceritanya. Bahkan dengan fakta bahwa kita bisa menikmati cerita-cerita orangtua atau nenek kakek di zaman dulu udh cukup membuktikan bahwa pada akhirnya cerita masa kecil kita hanya bisa dinikmati dan dijadikan pembelajaran satu sama lain.😄

      Kayaknya rame ya kak bisa cerita-cerita masa kecil ke ponakan-ponakan. Sayang ponakanku masih balita hohoho, kayaknya nantipun ada saatnya aku cerita-cerita masa kecil ke ponakan😂

      Salam kenal juga kak Rivai👋🏻, makasi udah mampir!😁

      Hapus
  7. Saya dulu hobi banget main BP mbak, bahkan sampai bikin sendiri dan saya jual😂
    Kalau main BP sambil ngomong-ngomong sendiri, tapi seru banget apalagi kalau sama temen cewek rame-rame. Suka juga main bekel, lompat tali, petak umpet, bahkan bisa main kelereng karena kakak saya cowok😁
    Dulu bener-bener ekstrovert ya, sekarang malah jadi introvert.
    Bener sih mbak. Saya juga suka nostalgia sama masa lalu karena capek sama masa sekarang.
    Saya dulu juga suka dengerin cerita embah pas zamannya penjajahan, pas di desa kami masih angker banget. Jadi kangen....
    Sekarang lebih sering sendiri trus pegang hape.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waaah kok bisa bikin sendiri sih, mbaa? Gimana caranya? Huhu saya jadi penasaran sama BP buatan mba Astria😂
      Mungkin karena masih kecil ya mba, jadinya main boneka atau main bp2an ngomong sendiri tuh rame aja, apalagi kalau sama temen-temen waah, bukan rame lg rasanya, tapi hebuooh wkwkwk. Kalau sekarang ngomong sama boneka rame2 gitu bisa disangka gila rame-rame kali ya mba😆. Main bekel, lompat tali sama petak umpet juga kayaknya gak boleh dilewatin tuh, tapi kalau lompat tali saya nggak jago karena gabisa lompat tinggi haha, makanya jadi anak bawang terus yg bisanya nambah beban tim karena kalau saya kalah mereka harus nalangin sisanya😂. Kayaknya seru juga ya kalau punya kakak cowok mba, mainannya jadi ngikut ke cowok juga😁. Saya kalau main kelereng baru ronde pertama udh abis kelerengnya kayaknya, soalnya paling gabisa bagian nembak si kelereng itu.

      Iya ya mba, kalau diingat-ingat, saya juga dulu sering banget dengerin cerita-cerita eyang zaman dulu, apalagi kalau udh ceritain yang angker-angker kayaknya emang gak pernah ngebosenin walaupun udahannya gak berani ke kamar mandi sendiri🤣. Dulu tuh bener2 asik nyimak mereka nostalgia. Sekarang sedihnya fokus kita jd berubah ke hal-hal yg bersifatnya candu semacam smartphone dan aplikasi di dalamnya.
      Semoga sesekali kita bisa mengistirahatkan diri sejenak dari kegiatan-kegiatan yg menguras kuota ini, dan lebih banyak waktu berkumpul sama keluarga ya mbaa, Aamiin.😢🤗

      Hapus
  8. Awl, benar banget. Kalau ngomongin era masa kecil, rasanya seperti kesedot balik ke waktu itu jadi kalau udah ngomongin hal itu bisa seru banget dan banyak banget topik yang bisa dibahas 🤭

    Hampir semua yang Awl sebutin di atas, pernah aku lakukan/tonton sewaktu kecil, baik dengan adik-adik atau tetangga. Sayangnya ketika udah naik ke bangku SMP, aku dan tetanggaku udah nggak pernah main bareng lagi karena sibuk sama tugas-tugas 😥

    Aku inget banget sering minta teman-teman sekelas dan tetangga untuk isi biodata di buku tulis, bahkan aku punya beberapa buku dan isinya orang-orang yang sama hanya saja ditulis di waktu yang berbeda 😂 maklum aja, dulu kalau ulangtahun pasti hadiah buku diary itu bejibun deh makanya aku gunakan sebagai buku biodata 😂
    Terus inget dulu kecil ada yang namanya orji, atau file/binder tapi versi kecil. Tiap hari, kerjaan aku dan teman-teman sekelas adalah tuker-tukeran kertas orji itu. Dan, kalau ada yang merk tertentu yang kertasnya mahal dan tebal, dituker dengan 2 lembar kertas yang biasa. Hahaha. Asli, aku nggak tahu gunanya apa sih tapi seru aja 😂 nggak pernah aku pakai juga lho kertasnya, itu dari aku SD, dan sampai akhirnya awal tahun ini aku declutter, aku nemu semua peralatan ini, yang akhirnya aku serahkan ke anak kecil lain 😂

    Tuh kan, kalau inget masa kecil mah jadi panjang banget komentarnya huahahaha.

    Btw, aku juga menyayangkan dengan acara TV jaman sekarang, kebanyakan nggak jelasnya menurutku sampai-sampai aku nggak pernah nonton TV lagi 😂 semoga kedepannya, tayangan TV lokal bisa lebih bermutu lagi. Atau paling tidak, Bring back Doraemon! Dan kartun-kartun lainnya 🤣

    BalasHapus
    Balasan
    1. Berasa waktu berhenti terus kita kelempar di tahun itu ya kak wahaha, kebanyakan nonton film fantasi atau sci-fi yg ada time machine🤣

      Nah iyaa bener banget kak, hal-hal kayak bareng main sama temen atai sekadar nikmatin tayangan tv bareng temen dan keluarga itu makin susah didapetin pas sekolahnya udh naik level ke SMP atau SMA. Mungkin ada beberapa yg ngalamin ada jg yg nggak. Faktornya sih biasanya karena kita bertemu dengan teman baru di lingkungan baru, jadi "kenyamanan" yg diperoleh bisa aja membawa suasana baru. Entah teman-teman kita yg menemukan teman baru itu atau bahkan kita yg secara gak sadar sedikit mengubah pola pertemanan. Mostly karena si tugas2 itu sih tapi yaa, seperti kata kak Lia, akupun dulu ngerasain jomplangnya kehidupan anak SD sama SMP dari segi pembelajaran di sekolah *walaupun masih gak lupa sama main😆*.

      Lah iyaa yaa, buku diari! HUAHAHA. Kalo dipikir-pikir dulu mainstream banget ya kak kado ultah ga jauh2 dari buku diari🤣 dan warnanya tuh biasanya sama, kalau nggak pink ya biru muda yg cucok meong gitu wkwkwk. Kalau gak diisi biodata temen-temen, biasanya diisi curhatan tuh, "dear diary, hari ini aku seneng banget..." haha i've been there😆.
      Loh aku juga ngalamin nih tuker-tukeran kertas orji😆. Aku dulu saking maniaknya sama file/binder sampe punya dua, dan dua2nya hasil merengek minta ke tante wkwk. Jadi deh punya binder yg ukuran sedeng sama yg agak besar. Nah kalau yg ukuran sedeng ini karena rada bagus aku gak tunjukin ke temen2 karena takut diminta, jadi disimpen di rumah hahaha *dasarmedit*, kalau yg agak besarnya dibawa ke sekolah. Entah kenapa aku namain kertas yg tebel itu sama nama merknya kak, kertas Harvest (yaampuun masi inget ajaa😭), dan sama bangeet kalo ditukerin ke kertas yg tipis berarti harus dua dapetnya. Aku sampe punya kenangan rese gara2 kertas ini, dulu berantem sama temen gara2 dia mau kertas Harvest aku yg gambar scooby-doo tapi aku gak mau ngasih, eh dia ngambek dan malah judesin aku padahal itu barang aku wkwk. Ujung-ujungnya aku yg ngalah relain kertas punyaku dituker sama kertas dia, padahal itu lucuu banget:( (emg udh penyabar dari dulu sih anaknya ehm😆). Iyaa juga kan kalau dipikir buat apa juga ya kak, mana gak dipake nulis lagi wkwk. Akupun binder yg agak besar ini masih ada di rumah dan mostly belum diisi apa-apa juga sampai sekarang😂. Oh iyaa, kalau punya binder atau buku diari, yg gak boleh ketinggalan tuh aku biasanya jadiin tempat nulis lirik lagu buat karaokean di kamar mandi, maklum lah belum ada yutub dan google—kalaupun udh ada belum kenal juga sama mereka. Sampe-sampe binder aku yaa isinya banyaknya sama lirik lagu aja, ada lagu Agnes Monica, ST 12, Ungu, Rossa, Vierra, wkwkwk. Untungnya punya kakak udh decluttered ya, tapi ngerasa sayang gak pas dikasihinnya kak? Kan tertinggal tuh kenangan masa rebutan kertas atau tukeran kertas file sama temen🤣

      Wahahaha gapapaaa kak, aku aja kebawa suasana jadinya, kebanyakan yg diinget tp kalo ditulis disini semua malah jadi satu post baru bisa-bisa😆

      Saking gak jelasnya mau nonton aja bingung harus nonton apa ya kak, bukan karena bagus banget, tp karena bingung mau menyesuaikan ke yg mana. Ujung2nya yutub atau gak drakor:))). Aamiin, semogaa ya kak:'( aku sangat berharap semoga pihak2 yg berjiwa kapitalis di pertelevisian sana bisa luluh dan mau serempak seluruh stasiun TV bersinergi buat berubah ke arah yg lebih baik. Minimal semuanya pada berubah haluan kayak NET TV pas masih awal-awal tayang deh, menurutku waktu itu mereka beda dari tv yg lain (kalau skrg kan net juga udah mulai sama gak jelasnya IMO huhu). Wah Doraemon emg udh gak ada kah kak di R*TI? Padahal kan ini satu2nya yg tersisa😭 Tapi semogaa hari minggu anak-anak tetap berwarna seperti halnya dulu penuh dunia kartun😁

      Hapus
    2. HAHAHAHA curhat di diary dengan awalan "Dear, diary.." AKU BANGET ASTAGA HAHAHHA *nggak nyantai*

      Ternyata Awl masih mengalami masa-masa tukeran orji >.< Astaga, aku ingat kertas Harvest dong! Itu kertas tebal yang harus ditukar dengan merk yang sama, atau 2 lembar tipis. Sama merk Adinata juga, ini kebanyakan gambarnya Mickey, Minnie dan Tinkerbell gitu.
      Yaampun, Awl baik hati banget. Padahal itu punya-mu tapi kok malah teman kamu yang ngambek. Dasar anak kecil WKWKWKW lucu ya kalau diingat-ingat.

      Huahahah sama dong! Aku juga dulu nulis lirik-lirik lagu di kertas, liriknya kadang hasil intip dari buku Chord musik atau hasil dengar berulang-ulang.

      Btw, waktu aku declutter, aku udah nggak ngerasa sayang untuk dikasih ke orang lain. Habis aku pikir, aku mungkin nggak akan pernah pakai kertas-kertas itu sebagaimana mestinya, jadi daripada hidup kertas itu tidak berfaedah di tanganku, lebih baik aku kasih ke yang kira-kira bisa mempergunakannya dengan baik >.<

      Yaampun, seru banget ya cerita masa-masa waktu kecil gini >.<

      Wah, udah lama banget aku nggak nonton TV Lokal sampai nggak tahu kalau Net sekarang udah nggak sebagus dulu, pas pertama keluar ya :( Sayang sekali. Semoga semoga semoga siaran TV lokal bisa lebih berbobot lagi. Sinetron-pun demikian.

      Hapus
    3. Kak Liaaa sori baru sempet bales komen ini😅

      WAKAKAKA semakin dalem ceritanya semakin rame sih kak kalau udh ngebahas masa kecil alias masa-masa lugu nan polos tuh🤣🤣🤣

      Lah iyaaa kertas Adinata aku juga inget tuh🤣 kalau gak salah selain tinkerbell, mickey mouse, ada jg yg winnie the pooh🤔 dan lucu-lucu bangeeet kertasnya. Memang kalau dipikir-pikir tingkah anak kecil selalu ngeselin ya, dan kalau kasusku itu entah aku yg terlalu polos atau emg baik aja sih kak wahahah. Paling sekarang kalau cerita sama temenku dia cuma bisa ketawa terus bilang "kok bisa gitu ya gue dulu😆".

      Oh iyaa ya kak buku Chord gitu, yg kadang isinya nyatu sama lagu2 daerah atau nasional hoho. Kalau denger berulang-ulang biasanya sambil dipause terus ditulis di buku diary😂😂

      Syukurlah kalau bisa dibagikan tanpa harus takut kehilangan memori atas benda2 masa kecil ya kak, sebab banyak nih perdebatan di luar sana antara mereka yg membuang barang2 sudah tak terpakai untuk hidup minimalis, dengan mereka yg tetap mempertahankan barang2 masa lampau karena merasa separuh kebahagiaannya disitu. Mungkin bisa jadi topik baru nih buat diangkat kak, in case lg gak ada ide😁 Somehow cerita masa kecil memang gak pernah habis buat diceritakan, mau sejelek apa moodnya kayaknya kalau dipancing bercerita tentang ini bisa langsung ke-boost😄

      Terakhir kali aku cek dan denger dari banyak org sih NET memang feelnya udh gak seoriginal dulu kak, ada yg bilang sejak pak Wishnutama jadi menteri berubah lah, ada yg bilang memang sudah dari lama, either way seharusnya perubahan dari yg ideal menjadi "sama" dengan kebanyakan stasiun televisi sih sangat disayangkan😟 Aamiin kak Lia, semoga tayangan televisi kita bisa kembali jaya dan berkembang seperti pada masa keemasannya ya✨💕

      Hapus
  9. Aku kalau lagi suntuk nyari-nyari video acara tv tahun 2000-an yang relate sama kenanganku. Terakhir kali yang aku tonton, anime Azuki Bunny yang dulu pernah tayang di TV7 sama nonton Friends di netflix. Nostalgia itu kayak terapi nggak sih, tiba-tiba kalau keingat berasa happy dan rindu.

    Seperti yang kamu bilang, TV kita saat ini udah nggak kayak dulu lagi. Aku sendiri udah nggak konsumsi TV 10 tahun terakhir ini, karena acara TV udah nggak semenghibur dulu. Ditambah dengan internet, bisa milih tontonan yang sesuai sama kita. Kebantu banget sama internet.

    Ini masih dari segi pertelevisian ya, belum yang lain. Apalagi kamu sempet nyinggung generasi. Well, aku setuju ada beberapa keadaan seperti saling menjantuhkan, walaupun niat pengelompokan ini bukan untuk itu. Beberapa waktu lalu ada sebuah thoughts dari mentor online ku yang bilang,
    "Kenapa generasi baby boomer bilang generasi di bawahnya lemah? Bisa jadi kita memang menjadi lemah karena tergerus dengan internet. Semua dipermudah, semua dipercepat. Secara psikologi keadaan kita (daya juang dan kesehatan mental) bisa jadi ikut menurun karena efek samping dari teknologi ini."
    Dan sekelebat aku setuju, I mean semua keadaan selalu ada resiko dan konsekuensi.

    Btw, aku baru tahu kalau yang benar itu romantisisasi. Setelah ini harus aku ingat dan perbaiki lagi tata bahasaku. Thank you loh udah nulis bagian ini!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama mba! Akupun kadang kalau lg bosan sama tontonan di yutub kadang cari2 acara tahun 2000-an yang melekat banget di masa kanak-kanak, dan rasanya memang seperti lg terapi memori. Mungkin yg tadinya mood lg gak baik, kalau dialihkan kesana jd berkurang karena pikiran kita menuntut untuk ingat beberapa hal menarik yg kita punya dulu😁.

      Dari segi pertelevisian aja udh keliatan banget jomplangnya ya mba huhu, apalagi dari sektor-sektor yang lain. Aku pribadi bersyukur sih dengan beberapa tayangan televisi pada masa itu yg benar2 kaya kreativitas, value dan nilai moral, makanya sampai skrg bisa ingat. Tapi gak berhenti berharap jg semoga kedepannya pertelevisian kita bisa ada perubahan, soalnya udh lama jg nih mba ga nonton tv😅

      Kalau dipikir-pikir saya setuju dengan apa kata mentor mba, dan merasakan sendiri bahwa mental kebanyakan orang di era skrg lebih rentan terganggu karena faktor-faktor eksternal dari keberadaan internet dan platform seperti media sosial, salah satunya membandingkan hidup dengan orang lain yg terlihat wah di instagram, sehingga merasa insecure nggak berkesudahan.😟 Memang semua kondisi pasti ada untung dan ruginya ya😢

      Hehe iya mba Pipit anytime!😁 Akupun baru tau setelah dicari tau, kalau nggak mungkin keenakan pake kata romantisasi😂

      Hapus
  10. Baca artikel ini jadi ingat zaman ANTV wooww!! Keren...😂😂😂 Baru deh terus booming MTV..😊😊

    Dulu zaman gw siapa hostnya kalau nggak salah Nadya Hutagalung & Jamie aditya.. Terus tahun 2000,an gonta ganti kalau nggak salah hostnya.😊😊

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wahaha kayaknya aku tau nih mas Satria, dulu waktu antv tulisannya masih anteve kan?😆 Tapi kalau zamannya host Nadya Hutagalung kayaknya masih kecil piyik belum ngerti sama acara tv😂

      Hapus
  11. Sebenernya agak malu saya ini Mba, soalnya pas dijaman-jaman itu saya udah gak merhatiin lagi acara tv, karena dulu saya ini sekolah di jurusan yang lebih intens ke komputer, jadi kerjanya, ngotak ngatik isi komputer (walo banyakan maen gamenya) hihihi, berhubung di rumah saya lebih dominan ke komputer (kerja sambilan saya waktu SMA) jadilah adik-adik yang masih pada piyik, ikutan-ikutan ngegame kalo saya lagi gak di rumah. Jadi bisa dibilang. Generasi yang udah gak mengenal permainan traditional dan lain-lain itu udah terjadi di era anak 90 an, tapi masih belum banyak. Jadi yah, karena itu akhirnya saya bisa maklum dengan perbedaan per generasi 😂😅

    BalasHapus
  12. Aku sendiri sebagai generasi 90an, juga susah move on dengan segala yg prnh aku rasain dulu di zaman itu :D.

    Tapi bukan berarti aku ga bisa adaptasi dengan zaman skr, Krn toh mau ga mau kita hrs ngikutin kalo ga kepengin tergerus zaman :D

    Utk beberapa hal, seperti teknologi, aku jelas lebih suka zaman skr :D. Semuanya jd lebih mudah. Tapi khusus utk lagu, mainan, sinetron, acara tv anak, ttp belum bisa bikin aku berpaling dari yg 90an :). Kayaknya bener sih mba, Krn liat aja acara tv skr, ga kreatif, cuma bisa begitu doang, prank, ato acara riya' yg dibalut dalam kemasan uang kaget. Sinetronnya awal2 bagus, tp kok ya ga ketemu ujung :p. Malah dipanjang2in demi rating :p.duuh capek jadinya.

    Aku sendiri kangen main karet dan bekel ma temen2 pas istirahat sekolah :p. Kangen effort nabung trus uangnya dibeliin kaset lagu idola :D. Ato dengerin radio trus lagu2 fav di rekam di kaset kosong hahahahha. Duuuh itu ngangenin sih. Sampe2 aku juga kangen bacain nama2 crew yg terlibat dalam 1 album penyanyi di kertas yg isinya lirik lagu dan ucapan makasih :). Kalo skr kan udh serba gaoamg, tinggal buku Spotify. Tp ga ada lagi keseruan baca2 siapa crew yg terlibat di dalamnya :)

    Aah, semuanya memang hrs mau berubah sih ya mba. Ga mungkin jg kita terkurung di masa 90an trus :D.

    BalasHapus
  13. Hmmmm kalo soal "apakah perkembangan skrg akan selalu membawa hal baik" itu balik lagi ke manusianya, bukan teknologi / benda matinya yg salah ya kawan2, kita sesekali perlu mengenalkan budaya Indonesia pada generasi muda kalo perlu tyenologi yg ada saat ini kita pakai buat membantu hal tersebut, so yg namanya perkembangan zaman tu gbs dinafikkan, pst trs berjalan, tinggal kita sbg manusia dan khalifah harus tau bagaimana cara membawanya menjadi hal baik. Selebihnya udh ok

    BalasHapus