Jalan Sabar, Sabar Jalan

by - May 09, 2021


Pernah nggak sih lo ngalamin keserimpet atau ketubruk-tubruk pas lagi jalan di suatu tempat yang padatnya bukan main? Gue sering, dan saking seringnya, gue selalu nggak betah berjalan lama-lama atau secara lamban di ruang publik.

Mungkin karena kebiasaan gue yang selalu ingin cepat dan nggak suka berlambat-lambat ria ketika berada di ruang publik, baik itu di trotoar, mall, jalan lebar, pasar, dsb.nya, jadi gue selalu nggak betah kalau berada di sana lama-lama dan selalu nggak sabar untuk mendahului. Ingin langsung syung syung syunggg gitu. Ini serius. Sampai-sampai sambil berjalan gue suka heran dan mikir sendiri, ini orang-orang yang lelet emang jalannya santai atau mereka lagi banyak pikiran jadi jalan sambil melamun? Ataukah mereka simply memang nggak peduli kalau jalannya terlalu ke tengah dan menghalangi jalanan orang lain? Sambil ngobrol cekakak cekikik pula? Saking cepatnya, pernah ketika gue lagi jalan sama tante gue, beliau ketinggalan jauh di belakang dan gue dibilang kayak orang Jepang karena cara jalannya yang nggak santai. Jiaah, kuliah bahasa Jepun bukan berarti jadi orang Jepun juga bund😆

"Emangnya mau kemana sih, neng, buru-buru amat!"

"Mau pulang lah, pak. Demen kalik saya lama-lama di jalanan😫."

Sebetulnya bisaa sih, santai, rileks, nggak perlu buru-buru. Namun hal itu hanya bisa dilakukan saat gue ingin menikmati momen-momen tertentu, misalnya saat lagi jalan pada Minggu pagi di kampus atau di CFD, dan saat mau pilih-pilih baju atau buku di toko—itupun sambil merhatiin situasi di sekeliling gue, apakah lagi ramai sentosa atau nggak. Kalau lagi ramai ya mending balik aja guehh😰. Suwer, berada di kerumunan lama-lama bikin sakit kepala. Gue susah fokus!

Setelah beberapa bulan ini merasakan, tinggal di kota kecil nyatanya nggak jauh berbeda dengan kota-kota besar yang macetnya terkenal bukan main. Apalagi pada jam-jam istirahat dan pulang kerja. Dan di masa-masa mendekati lebaran kayak gini, nih, justru menurut gue macet dan riweuhnya lebih parah daripada ketika gue masih di Bandung bulan puasa tahun-tahun sebelumnya. Berarti kebayang, kan, semacet apa? Kalau sebelumnya gue lebih sering kesal sama lampu merah yang lamanya bikin males dan pusing, justru sekarang gue lebih sering kesal sama perilaku manusia-manusianya. Dahlah jalanan nggak lebar, trotoar sempit, angkutan umum bertebaran dari yang sebelah jalan paling pinggir sampai yang paling tengah sekalipun, banyak pula orang-orang yang malah berdiam diri atau mengobrol ria di trotoar yang sudah sempit itu, ditambah prokes dilakukan alakadarnya karena nggak semua orang masih aware dengan covid-19 yang belum usai ini.

"Lah terus, ente sendiri ngapain ikut-ikutan ngeramein jalanan?"

Kebetulan ada beberapa barang yang harus gue beli, dan sejujurnya gue sendiri jarang keluar kemana-mana karena males, terbukti dengan udara panas dan macet yang nggak karuan bikin makin enggan untuk keluar. 

Nggak terhitung berapa kali rasanya gue ingin teriak dan punya kekuatan super yang bikin orang-orang ini jadi langsung tertib. Wushh! Tapi, siapa gue?

Lambat laun, sambil merasakan badan yang dicolek ibu-ibu dari belakang karena beliau tampaknya buru-buru juga (saya pun sama buu, bentar ya, sabar ya buu, orang depanku ini lama kalik bu😭), gue belajar bahwa ternyata our responses are all matters

Beberapa kali gue agak menyahut tak sabar saat orang di belakang gue menuntut untuk lebih cepat, sementara jalanan di depan fully tertutup dan nggak bisa ditembus lagi oleh orang yang memang selalu ingin cepat seperti gue. Beberapa kali juga gue terpaksa menerobos supaya orang yang menghalangi jalan itu sadar bahwa mereka berdiri terlalu ke tengah dan mengganggu kenyamanan orang lain. Semua respon atas situasi tidak menyenangkan itu gue tanggapi selalu dengan emosi, dengan ego yang memaksa untuk nggak mau jalan berlama-lama. Gue nggak memberikan ruang untuk kepala gue bersikap lebih dingin dan melihat dari sisi positif.

Padahal, di depan gue ada anak perempuan dan ibunya yang lagi semangat ngobrolin soal baju model apa yang mau mereka beli—mungkin hari raya jadi momen langka untuk mereka bisa punya baju baru. Nggak jauh dari sana, ada pasangan suami istri dan anaknya yang masih kecil yang tampak sesak kepanasan dan kebingungan untuk menentukan, akan ke arah mana lagi mereka pergi, ditambah barang belanjaan di kanan kiri mereka. Di depan gue juga ada banyak sekali tukang dagang yang hopeless menawarkan dagangan mereka untuk pejalan kaki yang abai begitu aja. 

Di antara mereka ada tukang sandal, tukang peci/kopiah, tukang mainan, tukang celana, tukang cilok, tukang rujak, sampai pedagang asongan yang giat nawarin minuman ke anak kecil dan mbak-mbak yang mungkin saja lagi nggak shaum. Gimana kalau dagangan mereka terinjak-injak atau terjatuh karena gue yang serabat serobot dan egois ingin cepat-cepat terbebas dari hiruk pikuk? Belum lagi ada nenek-nenek yang jalan sambil bawa kantong kresek di tangannya, dan anak kecil yang lagi jongkok sambil nangis menunggu mamanya karena mungkin juga sudah gerah ingin cepat pulang. Gimana kalau kepala anak kecil ini kesenggol sama kantong belanja gue yang lumayan berat hanya karena gue ingin buru-buru dan nggak ngeh dengan kehadirannya yang kurus dan kecil itu?

Sebagaimana hidup kita yang nggak lepas dari lalu lalang orang melintas, ada kalanya kita nggak bisa melawan hal-hal yang memang berada di luar kontrol kita. In this case, gue memaksa ingin cepat, menegur orang dengan cara nggak baik seolah-olah terlihat gue memikirkan juga kondisi orang di belakang gue padahal kenyataannya gue hanya mementingkan urusan gue sendiri, sementara perihal kecepatan berjalan atau cara orang berjalan dan kesadaran mereka tentang situasi sekitar bagaimanapun adalah sesuatu yang nggak bisa gue kontrol. Sekalipun bisa, mungkin hanya berlaku untuk satu atau dua orang yang gue tegur tadi. Selebihnya, gue bukan polisi, bukan security atau petugas dishub yang punya wewenang untuk mengatur keadaan disana. Itulah kenapa, respon gue menjadi segalanya. Karena satu-satunya orang yang bisa gue kontrol adalah diri gue sendiri, pola pikir gue.

Detik itu juga gue berusaha mengubah respon gue dengan senyuman. Walaupun senyum gue mungkin nggak terlihat karena tertutup masker, paling tidak senyuman itu berguna untuk bisa menenangkan diri sendiri. Menyiram api-api yang sedari tadi nggak berhenti menyala di kepala gue. Awalnya susah memang, apalagi kalau situasi nggak menyenangkan itu masih berlangsung gue rasakan. Bahkan pada respon berikutnya gue hampir menggerutu lagi, tapi sesaat kemudian gue harus mengingatkan diri sendiri untuk bersabar. Toh pada akhirnya gue hanya bisa maklum. Karena gue bukan sedang berada di Shibuya crossing yang meskipun tempat penyeberangan disana merupakan yang paling sibuk di dunia, semua pejalan kaki yang melintas patuh pada aturan. Gue juga bukan sedang berada di Jerman yang memang terkenal sebagai negara ramah pejalan kaki dengan infrastruktur yang baik. Bukan pula sedang berada di Korea Selatan yang termasuk negara dengan mobilitas tinggi, tanpa harus menyaksikan mobil-mobil dan angkutan umum chaos di sisi jalan. Gue hanyalah anak manusia yang berada di belahan dunia lain di Indonesia, yang kondisinya jauh sekali dari apa yang gue sebutkan di atas. Maka yang bisa gue lakukan adalah bersabar, dan maklum.

"Tapi apa itu artinya sah-sah aja kalau seseorang menghalangi jalanan bagi pejalan kaki yang lain?"

Bagi gue sendiri, punya rasa peka dan kepedulian yang tinggi, serta nggak menjadi ignorant saat lo sedang berada di public place semacam trotoar, mal, dsb.nya adalah sesuatu yang penting. Meski kenyataannya sulit, gue sendiri masih berusaha untuk nggak semata-mata memikirkan diri sendiri saat berada di jalan. Barangkali, kan, ada orang yang membutuhkan bantuan gue saat di tengah perjalanan itu. Gue maklum nggak semua orang punya awareness ini, tapi gue juga berharap bahwa kita bisa lebih tertib lagi ketika berbaur atau bersosialisasi dengan orang lain di ruang terbuka. Karena nggak semua orang bisa santai di jalan, nggak semua orang juga jalan-jalan untuk berlibur dan beli baju. Ada kok, yang semata-mata keluar hanya untuk beli bahan makanan buat buka puasa.

Tulisan kali ini gue dedikasikan sesuai dengan tema "Jalan" untuk awal bulan dari #1minggu1cerita. Entah kebetulan atau memang sudah "direncanakan", peristiwa kecil yang gue alami hari ini dan gue ceritakan di atas seperti kembali menyadarkan gue bahwa jalan untuk bersabar itu ternyata banyak cabangnya. Dan seringkali disitulah ia hadir, berdampingan dengan sesuatu yang kita benci dan sangat tidak ingin kita jumpai. Gue jadi belajar untuk nggak egois, dan nggak memaksakan apa yang selama ini menjadi kebiasaan gue. Karena bagaimanapun, disinilah kaki gue menapak saat ini. Di tempat yang masih banyak terletak kekurangannya, yet in fact menjadi tempat yang juga memberi satu pelajaran tambahan untuk gue bisa lebih bersabar. Sebagaimana hidup yang dihiasi hilir mudik cerita manusia, bersabar ketika di perjalanan sesungguhnya bisa menjadi jalan lain untuk kita mengenal diri sendiri dan kondisi di sekitar kita.

Akhir kata, semoga sehat selalu untuk kita semua. Lebaran sebentar lagi, manteman! Sedih, nggak? Gue sih so pasti sedih banget. Banyak faktor yang membuat suasana Ramadhan tahun ini menjadi tak ada bedanya dengan tahun lalu, if you know what i mean🤧

Eniwey, ada yang pernah merasakan pengalaman buruk jugakah saat sedang di perjalanan? Coba ceritakan versimu, ya😁 Let's sharing! xx.

You May Also Like

16 komentar

  1. Jujur ngerasain hal yg sama, kak. kyk apa² kudu satset warwer gitu 🤭 akhirnya kepikiran, klo aku cuma fokus sama kepentingan sendiri bisa bahaya nih jadi kurang peka akhirnya. Dari situ mulai sadar harus ttp bisa peduli sekitar.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Walaupun di jalanan sana banyak pengendara yg sama-sama pengen cepet, entah harus bersyukur atau gimana setidaknya kita diberi kesadaran lebih cepet untuk peka dengan kondisi sekitar juga. Semoga teman-teman pengendara yg lain pun bisa seperti itu ya, mbak, biar sama-sama nyaman dan tenang di perjalanan🤧.

      Delete
  2. Tadi pagi tuh Awl.. esmosi saya dijalan pas berkendara motor pulang kerja abis shift malam.. hahah 😄

    Entah kenapa di jalan raya akhir2 ini banyak penyetir yg kesambet.. mana tadi lawannya bis gede lagi. Kalau ketenggor apa nggk nyaho. Udah tahu jalanan lagi rame dan kesendat. Terus bis di belakang tuh nyempil2 gtu, mainin klakson nggak jelas. Mana posisinya aku pas di depannya lagi.. streess akuu ngedengerin suara klaksonnya.. apa nggk bisa sabar dikit ya.. udah tau di depan ada mobil mogok keliatan karena banyak orang yg dorong.

    Rasanya itu ban pngen tak peletusin.. haha. Sabar2 bay.. wk! Kayanya itu supir lupa sahur deh..🤣

    Di Indonesia mah kudu sedia paket sabar super gede ya..
    Aku juga kadang kalau lagi buru2 suka agak kesel kalau ada orang2 yg jalannya di tengah terus kelemer2 gtu. Wkwk. Kalau udah gtu. Aku biasanya bakal jalan nyerobot smbil bilang permisi...

    Tapi sejak pandemi udah jarang banget ke tempat2 publik.. apalagi bulan ramadhan kaya gini yg ramenya hhmm naudzubillah. 😁 sama kaya Awl, aku ya kurang suka sma keramaian.. kalau semisal bisa dirumah yah aku bakal milih buat dirumah sih..

    Btw, baca ini aku jadi keinget kejadian dlu sewaktu jatuh dari motor pas nyebrangin rel kereta karena kepeleset.. ya ampun awl.. masa lagi kondisi struggle berdiriin motor malah sempet2nya ada yg main klakson.. padahal dia posisinya ngeliat aku jatuh.. astaga.. untung ada pengendara lain di belakang yg pengertian buat ngebantuin.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah wah wahhh baca cerita mas Bayu semakin yakin kondisi di tengah kemacetan kayak gini udh jadi penyakit dan budaya yg melekat banget ya di Indonesia😭 Asli maas, itu aku sering banget nemu pengendara-pengendara yang nggak sabaran, nggak cuma motor, mobil, even bus seperti cerita mas Bayu, dahlah nggak nyadar body sama jalanan yang sempit apa yak😫 Masalahnya nggak sabarannya mereka ini kayak gak ada ujungnya gitu lho, pingin maju, serobot, padahal mau maksain maju pun ya gimana ya lagi macet, wkwkw😂. Kalau diceritaku di atas masih bisa serabat serobot karena memang situasinya di trotoar untuk pejalan kaki, kemungkinan untuk kecelakaan pas nabrak orang nihil. Lah ini, kesenggol tronton atau mobil aja bisa abis deh. Entah bakal gontok2an, atau bakal ada yg celaka. Ngeri😫😭

      Iyaa mas Bayu, ujung²nya kita yg peka dan aware yg harus bisa banyak sabar dan ngerem untuk nggak bertingkah sama kayak mereka-mereka ini. Paling sambil ngeduluin cuma bisa geleng-geleng kepala aja yaa mas🤣

      Ya ampun kebangetan sih itu yg di rel kereta, nggak liat sikon apa simply emang nggak punya simpati yaa, kok segitunya🤦🏻‍♀️ Aku kalau nyaksiin udah tak ketusin, "mau kemana sih sampeyan buru-buru amat!" *lah jadi mirip bapak2 yg nanya sama aku di cerita di atas🤣
      Semoga kita senantiasa diberikan keselamatan saat berkendara yaa mas Bay, semoga juga dipertemukannya dengan orang-orang yg sabar juga biar nggak sering-sering ketemu sama pengendara jenis gini😅

      Btw selamat hari raya Idul Fitri, mas Bayuuu. Maafkan telat seminggu, karena baru aktif ngeblog lagi setelah hiatus sebentar, hihi. Semoga sehat selalu dan bisa bertemu dengan ramadhan berikutnya yaa, mas!😇

      Delete
  3. Wkwk jadi keinget jaman ku masih lajang kak Awl, apalagi motor ku matic beat.,.byuh jalan 60km/jm seneng banget

    Kalau kena macet, huft emosi karna menguras bensin banyak banget kan kalau sering rem

    Akhirnya udah jadi emak2 motoran cuman mentok 40-50km/jam efek pernah kecelakaan motor ngantuk pulang kerja

    Kalo gak gitu gak kapok mungkin yaa aku hiks

    ReplyDelete
  4. sama banget sih! aku juga suka jalan - jalan tapi kalau tempatnya udah terlalu rame suka bete dan bikin nggak nyaman ahaha. ntahlah bawaannya mau pulang aja nggak suka lama - lama di tempat rame^^

    ReplyDelete
  5. Awwwllll kita samaan bangeett soal cara jalan 😆
    aku pun begitu kalo jalan rasanya pengen was wes wos
    tapi ini kayaknya keturunan sih, nenekku pun begitu kalo jalan haha
    sampe setiap kali jalan sama ibu (yg selalu santai jalannya), aku selalu dikira buru-buru. padahal itu aku lagi santai aja
    atau kalo lagi sama temen selalu di bilang, "Jangan mentang-mentang kakinya panjang deh" lha padal nggak ada hubungannyaa kisanak 😆
    aku pun nggak bisa di tempat rame. kayak auto nggak bisa nafas hehe

    ReplyDelete
  6. Haduh kalau di tempat rame di suasana kayak gini aku juga males banget Awl. Udah berapa pra-lebaran(?) ya aku nggak belanja baju baru? Udah males sama ramenya, apalagi sekarang lagi pandemi dan banyak orang yang abai kan. Makin parno💆‍♀️

    Dulu juga aku suka uring-uringan kalo ada yang jalan lambat, terus jadi mikir kayak kamu juga...yaudah sih ini Indonesia. Soalnya senewen sendiri kalo marah-marah😂😂😂 suka mengkhayal hal-hal macam enak kali ya tinggal di negara Eropa kayak Denmark yang penduduknya nggak banyak, enak kali ya tinggal di New Zealand yang orang-orang dan pemerintahnya becus nanganin pandemi :))) ngayal aja :)))

    ReplyDelete
  7. Sama Mba Awl, aku juga klo lg jalan pengennya buru2 n cepet2. Sampe pas hamil waktu itu sering bgd diomelin temen2 krna jalan ga bs pelan. Krna mnrt mereka takut bahaya jalan cepet n grasagrusu gt 😆

    Aku baca tulisan Mba Awl sambil ikut ngebayangin ramenya tempatnya 😆 Udah lama kayany aku ga ketempat serame itu. Hebat Mba Awl masih bs tersenyum n bersabar 😁 Klo udah terjebak disituasi kaya gt, dr pd kesel sendiri memang mendingan disenyumin aja yaa. Hehehe..

    ReplyDelete
  8. Hallo Kak, sebelumnya selamat lebaran ya :) maaf jka ada salah kata pas komen ya. Walaupun belum pernah bersua di dunia nyata, senang berkenalan dengan Mbak nih. Eh tadi Kak, sekarang Mbak :D

    aku juga tipe lumayan nggak bisa jalan santai kecuali emang lagi niat jalan-jalan sih. Kadang hakku sebagai pejalan kaki juga sering dirampas apalagi angkot2 Malang duh. Mereka sampai nyerobot jalan pejalan kaki, bikin kesel. Tetapi, kadang nggak bisa keluar aja emosi ini. Kalau lagi kesel cuma ngempet doang wkwkwkw . Tapi, kalau kadang lagi on keluar juga sih dari mulut. Walau cuma gerutu doang hihi

    ReplyDelete
  9. aku juga ga bisa jalan santai, rasanya pengen segera sampai ke tempat tujuan :D

    ReplyDelete
  10. Kalau saya tergantung lokasi dan kepentingan saya untuk menentukan cepat atau lambatnya langkah kaki saya. Kalau lokasinya misal di pantai dan saya di sana memang bertujuan untuk menikmati suasana pantai, ya saya pasti pelan-pelan saja (bacanya tidak perlu dengan nada lagu band Kotak).

    Tapi kalau saya kebetulan harus melalui lokasi yang harus saya lewati untuk sampai ke tempat tujuan, biasanya saya jalan agak cepat bila sendirian. Kalau bersama istri, apalagi anak yang baru berumur hampir 4 tahun, saya menyesuaikan langkah mereka. Tidak mungkin saya tinggal mereka di belakang.

    Kalau pengalaman tidak enak dengan orang lain, pasti ada, tapi saya tidak ingat detailnya. Keperluan atau kepentingan orang berbeda-beda. Sehingga ada yang jalannya pelan, ada yang butuhnya cepat. Yang penting saling sabar dan pengertian saja kalau menurut saya sih.

    ReplyDelete
  11. aku banget ini hahaha, untuk daily kayaknya aku tipe orang yang jalannya cepat padahal juga nggak diburu buru. sampe sampe temen kantor ngomong, kok cepet seh jalane.
    padahal menurut aku sendiri, jalan versi aku udah biasa aja

    kejadian kayak Awl gini, sering aku alami juga, misal pas ke pasar atau tempat umum, yang jalannya agak sempit, aku suka heran pas liat orang orang kenapa jalannya lelet banget, masih sana sini ga jelas, menghalangi aku buat lewat. terkesan egois kayaknya aku
    tapi dari sini aku coba buat sabarrr, ini jalan umum :D
    jadi mungkin jalan tapi setengah berlari, nahh gimana tuh :D

    terus kadang kalau lagi pengen slow jalannya, ya bisa juga jalan santuy banget

    ReplyDelete
  12. Kak Awl, you are the best!!! 🤭 Aku mau menimbrung bagaimana Kak Awl bisa mengkorelasikan antara satu topik tentang jalan dengan sabar. Sebuah hal yang sangat bagus menurutku. Suer ✌️ Aku selalu takjub sama tulisan serta pemikiran Kak Awl. Terimakasih sudah jadi Kak Awl 💕

    Nah kalau aku sendiri juga tipikal orang yang sat-set Kak. Aku nggak suka lama-lama. Biasanya sih kalau pergi belanja gitu terus paling males lama-lama. Entah saat di perjalanan karena emang lama, atau pas di pusat perbelanjaan pun tetep maunya udah cepetan selesai. Hahaha 🤣 Idk why tuh 🤣

    Minal Aidzin Wal Faidzin Kak Awl 🤗

    ReplyDelete
  13. Sejujurnya saya jarang sih kak untuk jalan kaki gitu, tpi pernh dan mungkin sya juga seperti kak Awl yg gak betah lama-lama dikerumunan dan pengennya cepet cepet aja, tpi saya ga berani untuk trabas trobos hehehe. Lebih sering ngalamin yg menyebalkan tuh kalo lagi naik motor apalagi naik motornya pas di tempat pusat perbelanjaan gitu, banyak banget pengendara yang memelankan laju kendaraannya untuk mwlihat lihat baju dan tiba tiba berhenti mendadak tanpa ngasih tanda, itu tuh nyebelin banget lah tapi alhamdulillahnya saya ngga ada sampe maki-maki baik yg dilontarkn atau dalam hati, paling ya ngucap istighfar aj.

    ReplyDelete
  14. Mohon maaf lahir batin ya, Kak Awl 🙏🏽. Kayaknya aku telat nih. Soalnya artikel tayang pas masih ramadhan, eh aku bacanya udah H+12 lebaran. 😂

    Kalau di daerahku, tempat publik cenderung sepi di hari biasa, Kak. Ada sih mall yang selalu ramai, tapi aku jarang ke sana. Wkwkwk 😂. Yang selalu ramai tuh pas bulan Ramadhan, mendekati lebaran. Soalnya banyak banget yang belanja baju baru, tas baru, sepatu baru, sandal baru, atau barang-barang lain yang baru yang dipakai pas acara lebaran nanti. 🤭

    Aku dulu pas menjelang lebaran juga sering banget ada di tengah-tengah keramaian itu. Ngomong-ngomong, aku juga sama kayak Kak Awl, sama-sama suka jalan cepat. Gak suka lama-lama di tengah keramaian. Soalnya aku gampang pusing kalau lihat situasi ramai. Bahkan aku pernah pingsan pas jalan di tempat publik yang ramai pas lagi puasa 😂. Semenjak itu untuk keperluan perintilan lebaran, aku belinya sebelum ramadhan aja. Takut pingsan lagi soalnya. Sakitnya sih nggak, malunya itu lho. 🙈

    ReplyDelete