Kenang Untuk Nanti

by - March 31, 2021



A little note untuk teman teman yang mengakses postingan ini via PC, teman teman bisa langsung klik aja gambar di bawah untuk mendengarkan. So, enjoy:)

Kenang Untuk Nanti


Semburat senyum terukir di bibirku saat membayangkan masa-masa muda yang cukup memalukan, namun indah untuk dikenang. Wajah-wajah penuh tawa mereka, kawan-kawan yang dulu senantiasa mewarna hari di komplek lestari, lalu di masa dimana cinta terasa persis seperti judul lagu band, dan kawan-kawan yang sampai saat ini masih setia bertengger di kontak whatsapp-ku,  hingga mereka yang namanya tak lagi ingin kuingat.

Waktu cepat berlalu, ya. Dalam masa-masa sulit seperti ini, rasanya kegiatan nostalgia menjadi satu-satunya hiburan yang cukup menenangkan untuk menyadarkan, bahwa hari ini akan menjadi kenangan, dan setidaknya, selama napas masih terasa di rongga-rongga hidungku, ada celah harapan di hari esok yang mesti kusongsong, pada usaha-usaha yang akan kuemban. 

Namun dalam beberapa kondisi, seringkali harapan yang menyembul itu tetap tak mengaburkan ketakutanku akan kegagalan-kegagalan yang menanti.

Apa aku bisa melewati itu? Apa aku bisa untuk tak mengulang khilaf yang disengaja atau tidak? Tanyaku pada layar imaji di dalam kepala. Bahkan sampai pada titik dimana aku takut akan ketakutan yang mungkin kualami di hari-hari berikutnya. Ya, aku takut akan takut.

Aku takut, kenangan.
Aku ragu, diri kecil.
Aku hanya ingin terus menyaksikanmu di layar pikiranku, melihat tawa-tawa tak berdosa dirimu diiringi dengan kolase video yang seolah menampilkan pertumbuhanmu seiring bertambahnya usia. Aku hanya ingin disana, menikmati masa-masa indah itu sebelum kelu seperti hari ini.

Kemudian, saat mataku tengah kosong di tengah realita, pikiran akan setumpuk tanggungjawab tiba-tiba berkelebat menutupnya. Aku takut lagi. Sesuram itukah masa depan? Sampai-sampai aku tak bisa mengintip sedikitpun peristiwa menyenangkan yang mungkin akan aku dapatkan lewat celah-celah di kepalaku?
Seperti mesin waktu milik Doraemon?

Terlalu menakutkan rupanya realita bagi manusia dewasa. Berbagai penolakan, perbandingan, penghargaan, sampai pada pertanyaan-pertanyaan kosong dari orang-orang yang tak benar-benar peduli mesti kutelan setiap hari. 

Ada kalanya telinga ini lelah, ada kalanya mulut ini juga penat meladeni tingkah-tingkah. Namun ada kalanya diri ini pun lelah, berjibaku dengan ketakutan yang berasal dari antah berantah bernama bawah sadar. Sudah jelas semua ini hanya ketakutan dan kekhawatiranku.

Mungkin seharusnya aku abai saja. Menjadi manusia merdeka yang tak peduli kenihilan, melainkan menjadikan gambar-gambar di kepalaku sebagai motivasi meski hanya secuil.

Yah.. seringkali kita terlelap dalam gemerlapnya kenangan, terlalu ingin kembali kesana, karena kenyataan yang semakin sulit untuk diterima. Padahal, kenyataanmu saat ini datang dari sebuah pemikiran dan.. mungkin saja ketakutan yang menghentikanmu dari langkah-langkah besar kehidupan. Bukan masa depannya yang menyeramkan, tapi alam itu.. pikiranmu. Pikiranku, yang selalu menjadi dalang atas cerita-cerita tanpa akhir.

Tak apa bernostalgia sesekali
Asal tak lupa untuk kembali
Benahi apa yang sempat terhenti 
Agar ada yang bisa dikenang nanti.. 

Kelak, ceritakan ragam juang yang tak henti
Sebagai nasihat untuk si buah hati
atau pengingat bagi dia yang di sisi
Bahwa sudah sehebat ini kita berdikari..

o.o

You May Also Like

8 komentar

  1. Kalo awl melihat photoblogku, hampir semuanya berbicara tentang kenangan, hampir semuanya mengenai nostalgia. dan memang aku termasuk orang yg terjebak nostalgia.

    Mungkin dan hanya mungkin, karena aku bukan termasuk orang yang visioner, yang memikirkan bagaimana diriku 5 tahun mendatang.

    Aku juga bukan termasuk orang yg goal oriented, yg membuat goal-goal bulanan bahkan tahunan, kemudian bekerja keras agar goal tersebut bisa tercapai.

    Aku adalah orang yg hidup di hari ini, hari demi hari tanpa tujuan jelas.

    Dan akhir-akhir ini aku mulai memikirkan untuk mengakhiri ini dan mulai lebih banyak untuk melihat kedepan, lebih bisa visioner dan lebih rajin membuat goal-goal yg bisa jadi sistem navigasi agar hari-hariku bisa berprogres ke satu tujuan yang jelas, berjalan ke arah yg sesuai kehendak di awal.

    aku belum tahu akan seperti apa kalo aku menjadi orang yg goal oriented, tapi ini patut dicoba seperti halnya orang-orang yg bisa mencapai mimpi-mimpi mereka karena membuat goal yg jelas.

    Tak apa bernostalgia sesekali, karena aku menyukainya
    tapi jangan lupa untuk kembali, menata apa yang ada di depan mata
    dan sesekali melihat masa depan, memastikan tetap pada jalur yg sesuai, tidak menyimpang.

    Awl, semoga komenku sesuai tema podcastmu hari ini.

    Again, it's beautiful! entah kenapa, aku jd inget temen-temen SMFku dan semua hal yang terjadi waktu di kompleks UPI, pentagon, cilimus, dan DT.

    ReplyDelete
  2. Dari pertama kali dengar podcast kamu, saya ngga pernah berhenti mikir untuk bisa bikin project bareng. Ini hal yang terus menganggu kepala saya. Mungkin hanya bisa saya utarakan dulu niat saya ini.

    Ohya, saya tenggelam dengan diksimu yang keren. Topiknya bikin saya ingat cerpen yang pernah saya buat berjudul "Lelaki yang Berlari dari Kenangan". Kalo kata Paman saya, setiap orang punya legacy bernama kenangan. Maka tak heran, kalo ketemu keluarga, yang sering diomongi pasti masa lalunya. Sebab hanya itu yang bisa dia banggakan

    ReplyDelete
  3. Mengingat kata kenangan entah kenapa belakangan ini imajiku jadi cukup keruh menelaah kata tersebut.

    waah, aku malah dengerin suara awl, malah semakin tergambarkan ketakutanku untuk mengingat kenangan. Benar nih, realita dan ketakutan bagi manusia dewasa ya.

    nice project, awl..

    ReplyDelete
  4. Sukaaaa banget baca tulisannya
    Sukaaa banget dengar suaranya
    Sukaaa banget sama pilihan diksinya
    Alurnya dan pesan-pesannya

    Keren sekali, Kak
    Terus berkarya dan sukses selalu

    Ah kenangan
    Selalu hadir tanpa diundang
    Menghadirkan kisah lama
    Ada yang membawa sesal, ada yang membawa bahagia
    Semoga semua jadi pelajaran

    ReplyDelete
  5. Suara Awl masih enak didengar. Dan pemikiran Awl juga masih sama mendalamnya.
    Pikiran kita merupakan satu dari sedikit dari hal-hal yang berada dalam kontrol kita. Jadi, jangan sampai kita justru memfokuskannya pada hal-hal yang berada di luar kendali kita, seperti perkataan dan pertanyaan orang lain. Mulut/jempol orang nggak bisa kita atur, begitu juga masa depan. Tapi kita bisa mengatur reaksi kita terhadap aksi yang orang lakukan, juga ekspektasi kita terhadap masa depan yang belum datang.

    Nggak gampang sih emang. Tapi kalau kulihat dari tulisan-tulisan pemikiran Awl di sini, aku yakin Awl pasti bisa :)

    ReplyDelete
  6. Suaramu sungguh meneduhkan, emosinya dapet! diksi-diksi yang pas, begitu sempurna. jadi ikut bernostalgia. panutankoe!!

    ReplyDelete
  7. luvvvvvv Awl
    kenangan, kalau ngga ada kenangan, nggak akan ada yang bisa diceritakan buat anak cucu ya

    ReplyDelete
  8. Aku cukup sering bernostalgia kadang pengen balik ke masa-masa itu. Tapi ada yang bilangan jangan terlalu sering dan egois ingin kembali ke masa lalu.

    ReplyDelete