Tentang Harta yang Paling Berharga

by - January 01, 2021

Tentang Harta yang Paling Berharga

Setelah tujuh bulan ini berkutat dengan ruang hampa sendiri, akhirnya hari Senin kemarin gue dijemput pulang sama ayah gue supaya bisa menikmati libur tahun baru di rumah—yang sebetulnya nggak betul-betul bisa gue nikmati, bahkan semakin bikin stress, karena itu artinya gue nggak bisa santai-santai lagi dalam menyelesaikan tanggung jawab gue, yang selama ini seringkali tertahan dan dikuasai oleh segala macam mood (yang naik turun tanpa henti) dalam waktu singkat. Meskipun minggu depan gue sudah harus segera balik, tapi daripada gue semakin  stress dan overwhelmed di Bandung, setidaknya pulang ke rumah pun menjadi solusi paling baik yang bisa gue lakukan untuk back to reality.

Bicara soal rumah, sebetulnya definisi rumah bagi gue ada banyak. Rumah, tempat gue pulang dari melaksanakan tugas dan kewajiban di luar sana sebagai individu, dimana gue nyaman untuk melakukan segala hal yang pingin gue lakukan disana. Rumah, juga tempat keluarga gue tinggal, yang tentu dalam kenyataan sebenarnya buat gue ada banyak pula, karena ibu dan ayah gue tinggal di tempat yang berbeda, dan adik-adik gue pun tinggal bersama eyang dan tante kami—meski jaraknya nggak terlalu jauh. Terakhir, rumah bagi gue adalah tempat dimana gue kembali ke Yang Maha Kuasa, yang mana menjadi kesimpulan paling jelas bahwa pada akhirnya rumah adalah tempat gue kembali. Dan untuk sekarang, rumah menjadi tempat gue kembali dari segala macam ketakutan, kekhawatiran, dan keegoisan tak berujung yang selama ini hinggap dalam kepala gue  saat harus menjalani hari-hari seorang diri.

Mungkin nggak hanya bagi gue, tapi juga bagi sebagian orang di luar sana, keluarga adalah rumah, dimana mereka nggak hanya sekadar jadi saudara, atau sekadar jadi orang-orang terpenting yang lahir di garis keturunan yang sama—atau bukan sekalipun, tapi literally jadi support system, tanpa harus menunjukan bahwa mereka mendukung gue dalam keadaan apapun. Terkadang, hanya dengan obrolan-obrolan ringan dan cerita-cerita lama tentang kehidupan (yang bahkan sudah sering gue dengar tanpa bosan) dari eyang gue, bagian negatif dalam diri gue terasa seperti healing dengan sendirinya. Kehangatan itu benar-benar bisa jadi obat untuk gue yang beberapa waktu ini terlalu sibuk dengan urusan sendiri sampai lupa gimana rasanya pulang. 

Thankfully, gue menemukan kembali kesederhanaan yang gue (sebetulnya) rindukan selama ini. Kesederhanaan yang cukup untuk membuat gue kembali kepada kenyataan—seperti yang gue mention sebelumnya. Bahwa gue seharusnya cukup berjalan maju tanpa terlalu merisaukan banyak hal. Bahwa gue perlu sadar, satu tahun panjang yang baru saja gue lewati sebetulnya sama dengan tahun-tahun sebelumnya yang berat, penuh tantangan, dan penuh sukacita. Mengutip seperti kata Pak Anton, it's just another year, actually. Karena pada kenyataannya, meski gue berhasil survived, gue tetap melakukan kesalahan besar dengan menyia-nyiakan waktu. Another lesson learned from 2020.

But let's now move on to another topic. Gue sudah cukup banyak belajar menasehati diri gue sendiri beberapa waktu kebelakang ini. Kasian juga lama-lama diomongin terus😂 Consequences are consequences, all i can do is deal with it. Sekarang gue cuma mau bagi-bagi yang manisnya aja.

Hari ini gue merasa lebih hidup. Kayak judul film tentang zombie tahun kemarin; Alive. Karena apalagi kalau bukan gue bisa ketawa bareng keluarga, makan bareng, denger cerita-cerita waktu dulu kedua eyang gue masih muda dan banyak dikejar cowok, lalu pernah naik becak dan nyusruk gara-gara jalanan yang bolong, sampai cerita soal mereka yang nekad bawa motor jauh-jauh dari Jakpus ke Bogor tanpa surat-surat dan SIM karena masih SMP (yang ujung-ujungnya ditilang polisi juga)😂, dan masih banyaaaak lagi cerita seru lainnya. Gue juga bisa main bareng ponakan gue yang lucu dan menggemaskan😍, plus hari ini gue dimasakin palumara sama eyang gue. Yepp! Salah satu masakan khas Sulawesi kesukaan gue—tapi khusus cuma kalau buatan eyang gue🤣. 

Jadi, sedikit cerita tentang silsilah, karena alm. kakek gue orang Makassar, dari dulu eyang putri gue sering banget masakin makanan-makanan khas sana, salah satunya palumara ini—though setelah gue searching ada juga yang bilang masakan ini asalnya dari Palu😂. Paling nggak masih sama-sama Sulawesi lah yaa, wk. Dan karena kebetulan dulu eyang gue sempat buka usaha catering, jadi masakan-masakannya pasti nggak pernah mengecewakan di lidah gue🤤—selain kenyataan bahwa masakan rumah emang terrrdabessttt dan nggak ada yang bisa ngalahin, mau sejauh apapun dan seenak apapun tempat makan yang gue datangi.

So, that's all for me. Walaupun ceritanya sedikit, tapi rasa puas dan bahagia di hati of course lebih banyak dari ini😍. Not bad lah yaa untuk mengawali postingan pertama di tahun 2021😉

o-o

How 'bout you guys? Adakah cerita yang pingin teman-teman bagikan juga di hari pertama di bulan Januari ini? Let me know, ya!

You May Also Like

13 komentar

  1. Cerita di hari pertama tahun 2021, saya sudah kelayapan ke blog kawan-kawan yang lain dan mulai ngerecokin lagi.. hahahahahaha... mengajukan pertanyaan-pertanyaan kecil...

    Jadi, saya juga mau iseng mengajukan pertanyaan kepada Awl..

    1. Back to reality : emang Awl sekarang hidup di dunia khayalan? Atau seperti rumah, Awl punya dunia-dunia lain yang terasa seperti tidak nyata? :-D

    2. Kenapa harus menyalahkan diri sendiri? Kenapa tidak memandangnya sebagai bagian dari perjalanan hidup saja? Kenapa harus selalu berpegang pada target dan ekspektasi? Kenapa tidak kita nikmati saja hidup yang diberikan kepada kita?

    Dah ah.. itu dulu..

    Happy New Year Awl, semoga tahun 2021 lebih baik dari tahun 2020, meski pada akhirnya sebenarnya semua tahun sebenarnya sama saja... ada senang, susah, sedih, gembira.. hahahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wahh akhirnyaa pak Anton kembali, hehe. Apa kabar, Pak?😁

      Berhubung pertanyaan satu dan dua sebetulnya terkait, jadi saya satukan saya jawabannya yaa, pak, ehehehe. Seperti yg saya ceritakan sedikit di atas, pak Anton, ada kalanya saat jauh dari keluarga dan dihadapkan dengan beberapa masalah, sebagai manusia pasti ada rasa kecewa dan stress yang nggak bisa saya deny. Takut mengecewakan mereka, takut nggak bisa mencapai target yg ada, sampai akhirnya lama kelamaan saya membuat sulit diri sendiri dengan berada terlalu jauh dari realita yg sebenarnya, bahwa seharusnya saya cukup menikmati hidup tanpa harus mempersulit diri sendiri. Ini juga pada akhirnya menjadi salah satu proses pendewasaan saya.
      Mengapa berekspektasi dan buat target ini itu kalau pada akhirnya stress dan membawa diri kita terbang terlalu tinggi? Sebab buat saya pribadi ada beberapa hal yg kadang perlu kita targetkan agar bisa semangat dalam meraihnya, dan ada juga yg tidak. Mungkin setiap orang berbeda-beda caranya menjalani kehidupan. Saat inipun saya kembali mendapatkan pembelajaran baru untuk tidak terlalu tinggi berekspektasi. Saya awalnya orang yg juga kurang suka buat target, rencana, dan ini itu, tapi belajar dari beberapa kegagalan, akhirnya saya punya kesimpulan seperti itu. Bisa jadi inipun nanti beberapa tahun bisa berubah-ubah seiring proses pendewasaan diri, entahlah, pak😅

      Tapi kalau memandang semua permasalahan sebagai bagian dari perjalanan hidup, sudah pasti saya lakukan, pak Anton. Karena memang itulah yg kebanyakan saya alami di tahun 2020, punya masalah, merenung sebentar, mencari solusi, take action, dan belajar dari itu. Hanya saja maksud menyalahkan diri sendiri itu sekadar jadi pecutan agar saya bisa bergerak lebih gesit dan bisa setidaknya menghindar dari kesalahan-kesalahan yang baru, hehe😂. Mungkin cara menyampaikan saya di atas kesannya selalu menyalahkan diri ya, pak?😁 Insya Allah saya belajar untuk kembali lebih menikmati hidup yg sebenar-benarnya, dan belajar untuk jangan menyalahkan diri sendiri dalam segala kondisi😁

      Happy new year jugaa, pak Anton!🎆
      Aamiin, semoga bisa lebih siap dan kuat lagi menghadapi setiap tahun yg rasanya selalu nano nano ini yaa, pak😆

      Delete
  2. Well, sama seperti apa yang pak Anton tuliskan atau yang sekarang awl tulis, it's just another year, nothing more, nothing less.

    Hanya angka saja yang berubah, hanya momennya aja yang mudah untuk diukur. Karena selalu ada 3 dalam urusan waktu yaitu masa lalu, masa sekarang, dan masa depan. Dan tentu Awl juga pasti tahu kalo yang paling penting itu adalah hidup di masa sekarang, terlepas apakah hari ini adalah 31 des 2020 atau 1 jan 2021. It's not about that, but about how you spend or use your time from waking up to fall asleep.

    Dan hari ini pun ga ubahnya seperti long weekend minggu kemarin, waktu masih terasa berlalu terlalu cepat, ga kerasa besok udah sabtu aja, heuheu..

    Tapi kalo aku menganalogikan satu tahun itu seperti satu kantong utuh, aku mau kantong bernomor 2021 menjadi sesuatu yang lebih baik, i expect to do hustle.

    mau ga mau, kita ga boleh jadi orang yg merugi, harus lebih baik dari sebelumnya.

    day one of 2021, checked! all blog were already updated!

    btw, awl pulangnya kemana?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya kak, Ady, buktinya waktu kemarin orang-orang bunyiin petasan, kembang api, atau mercon(?), aku mulai merasa nggak ada yg spesial dan cuma ikut mendengarkan keramaiannya aja😂—selain kenyataan bahwa aku memang sering denger orang nyalain kembang api keras-keras di kosan, wkwk. Jadi, lebih pingin dibawa santai saja. Nggak punya resolusi apa-apa selain semoga bisa (jadi) lulus tahun ini, agak hopeless memang ya orangnya🤣 tapi aku percaya masih punya mimpi di lubuk hati terdalam, kok.

      Semoga, harapan-harapan yg disuarakan, baik itu di dalam hati, di buku catatan, di blog, dimanapun bisa sedikit demi sedikit terwujud, dan kita bisa menjadi salah satu dari sekian orang yg berhasil memperbaiki diri dari masa-masa yang telah lalu. Aamiin😁

      Btw juga aku pulangnya ke Sukabumi, kak Ady. Kota yg banyak pantai dan pegunungan, tapi akunya cuma main ke pantai dua kali seumur hidup🤣

      Delete
    2. wah, semoga terwujud lulus kuliah tahun ini yaaa awl!

      aku selalu ingin ke sukabumi, dari namanya kesannya tuh sejuk dgn alam yg indah, benar ga awl?

      Delete
    3. Aamiin😇
      Betul bangeett, kak Ady. Disini tempat wisatanya hijau-hijau dan biru-biru semua😅 yang lumayan terkenal sih Geopark Ciletuh, mungkin suatu saat kak Ady bisa coba main kesana.

      Delete
  3. Sama seperti mas Anton, saya kadang bingung dengan orang-orang yang habis liburan terus masuk kantor atau sekolah. Perkataan atau ungkapannya selalu sama,"back to reality".

    Pertanyaannya realita yang mana? Apakah kamu sebenci itu dengan pekerjaanmu? Atau memang sumpek dengan sekolah? Ini semacam ungkapan bahwa orang-orang tersebut hidup hanya untuk akhir pekan.

    Karena Aina bahas palumara, saya jadi tersentil sebagai orang Sulawesi. Jadi setau saya, palumara itu cuma satu dari sekian banyak nama pada suatu daerah. Kalo diterjemahkan yah namanya tetap ikan masak. Sama halnya orang Indonesia umum mengenal Jalangkote sebagai pastel.

    Btw, selamat tahun baru Aina. Kebaikan untuk kita semua 😃

    ReplyDelete
    Replies
    1. Buat saya sebetulnya itu hanya kiasan, Rahul, nggak benar-benar mengungkapkan makna sebenarnya. Apalagi untuk orang-orang yang sering overthinking, pasti sering merasa terlalu memikirkan banyak hal yg seharusnya nggak perlu dia pikirkan, sampai akhirnya kalau digambarkan, orang itu lama-lama jadi terbang terlalu jauh, entah sampai tiang listrik, atap rumah orang, sampai gedung DPR, atau bahkan terlalu jauh sampai ke langit. Nah, dalam momen-momen seperti itulah kita perlu menjejak kembali pada kenyataan yg sebenarnya. Mungkin maksud mereka juga seperti itu Rahul, entahlah. Sebab setiap orang punya perspektifnya masing-masing. Mungkin realita seperti terlalu kejam untuk dilalui. Kalau saya sendiri merasa yaa memang sudah begini, kadang kejam, kadang manis, jadi harus dilalui. Dan memang back to reality-nya bukan karena kembali dari liburan😆. Murni maksud saya adalah yg pertama itu, Rahul. Tentu, PR untuk saya jangan banyak-banyak overthinking😅.

      Hoooo ternyata begitu, toh🤔 saya sempat cari juga artinya ikan yang dimasak gitu ya. Tapi mungkin karena tiap daerah punya ciri khas masakannya, jadi pasti bumbu atau resepnya beda-beda. Soalnya terlanjur itu sudah jadi sebuah nama, sampe saya pun mikir hal yg sama😂 Informasinya eksklusif dari Sulawesi nih, wkwk. Thanks ya, Rahul.

      Selamat tahun baru jugaa. Aamiin, semoga keberkahan menyertai kita selalu yaa, Rahul😁🎆

      Delete
  4. Ada banyak cerita baru yang ingin diceritakan kak. Btw selamat tahun baru kak! Salam kenal juga 😊

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, banyak cerita baru meski baru tanggal 2 Januari yaa mbak. Bener-bener masa depan itu unexpected😁
      Selamat tahun baru jugaa mbak Zakia, sehat selalu yaa. Terima kasih sudah main kesini, dan salam kenal!😍

      Delete
  5. Pantes komenan kemarin kayak menghayati, ternyata beneran ceritanya hampir relate. Tapi syukurlah punya keluarga besar yang bisa saling cerita-cerita, lumayan bisa mengentengkan nasib kurang baik. Apapun masalahnya, minumnya teh botol sosro. Yah... Receh.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Biasanya kalau nemu tulisan yang relatable, komentarnya pasti langsung dari hati, mas Nandar😆 Jlebb gitu. Alhamdulillah keluarga memang betul-betul bisa jadi obat mas, makanya saya pun bersyukur banget🤧

      Wakakakak mas Nandar sama recehnya juga yaa sama saya, renyah garing kriuk gitu, tinggal pake sambel....

      Delete
  6. hari hari pertama di tahun 2021 disibukkan sama kerjaan karena habis tutupan akhir tahun dan kejar deadline kerjaan berikutnya. Hampir 2 mingguan malah, dan minggu minggu ini udah lebih rileks dikit hehehe
    makanan khas makasar kayaknya cuman es pisang ijo aja yang aku cobain, malah aku penasaran sama palubasa dan coto makasar

    ReplyDelete