Tips Membuat Konten yang Kreatif: Berawal Dari Kegelisahan

by - Mei 07, 2022

Berawal Dari Kegelisahan (How to produce a creative content with Raditya Dika)

Mendadak gue ingat pernah ikut kelas "Persiapan Menjadi Video Creator" bersama Raditya Dika yang diselenggarakan oleh Kominfo x Siberkreasi tahun lalu dan ingin menuliskan sedikit bahasan pentingnya pada kelas waktu itu. Dalam salah satu sesi, Bang Radit sempat memberikan tips tentang bagaimana caranya membuat ide konten yang kreatif dan bermanfaat.

Menurutnya, hal tersebut bisa dimulai dengan memikirkan kegelisahan diri sendiri, diikuti dengan memikirkan cara untuk bisa menghadapi kegelisahan tersebut. Iyap, jadi pada dasarnya, kita yang punya masalah, kita sendiri yang cari jalan keluarnya, lalu kita coba bagikan deh, ke khalayak umum. Barangkali konten tersebut ngena di sebagian orang, atau mungkin bisa menjadi solusi dan jawaban juga atas kegelisahannya.

Contohnya terdapat di dalam konten-konten Raditya Dika sendiri yang mana salah satunya dapat kita lihat lewat video reels berikut ini:


Dalam video itu, kegelisahan Radit adalah: tidak bisa tidur dengan lampu dinyalakan, namun ia lupa mematikan lampu dan malas turun lagi saat sudah beranjak ke kasur. 

Cara unik yang dia lakukan untuk bisa mematikan lampu, atau supaya bisa tidur meski lampu dinyalakan adalah dengan melemparkan bola kasti ke arah saklar menggunakan tongkat baseball. Hal itu ia lakukan bukan semata-mata agar saklar bisa tertekan off, tapi agar dia merasa kelelahan dan setelah itu bisa tidur meski lampu dinyalakan.

Well, cara ini memang nggak bisa dilakukan untuk semua orang, mengingat ini hanya komedi🀣. Tapi itulah fondasi yang dimiliki Bang Radit dalam membuat konten-kontennya yang out of the box

Selama kelas berlangsung, gue jadi mikir, kira-kira konten atau tulisan apa yang bisa gue buat based on kegelisahan yang gue miliki, yaπŸ€” Apakah jangan-jangan sebenernya gue udah pernah buat yang sesuai dengan content pillar Bang Radit?

Turns out, setelah gue baca-baca ulang beberapa postingan lama, selama ini gue sudah banyak menuliskan tentang kegelisahan gue ke blog—dan mungkin juga teman-teman bloggers yang lain secara nggak sadar. Walaupun memang nggak semua gue terapkan pilar yang kedua: cara mengatasi kegelisahan tersebut, tapi gladly gue sudah mengerti gimana basis dalam membuat konten itu berkat ilmu yang gue dapat dalam kelasnya Bang Radit.

Beberapa contoh tulisan gue yang berangkat dari kegelisahan adalah Bahagia Perlu Uang? dan Don't Stop. Dalam postingan yang pertama, gue mengajak orang-orang terkhusus teman-teman yang sama-sama sedang mengalami krisis seperempat abad untuk bekerja keras dan memiliki growth mindset terhadap uang, karena bagaimana pun alat tukar ini bisa memberi sedikit banyaknya power dalam hidup kita, entah itu untuk menghidupi diri dan keluarga, atau membantu orang-orang yang tengah kesulitan di luar sana. 

Mengapa ini jadi kegelisahan gue? Karena ketika menulis itu, keluarga gue sedang mengalami masalah pelik soal keuangan. Mungkin ada tiap hari dimana kami harus memutar otak gimana agar uang ini bisa terus berputar, misalnya dipakai untuk berdagang, dan gimana caranya agar uang yang dihasilkan bisa jadi modal untuk hari esok dan nggak habis dipakai menutupi kebutuhan rumah tangga.

Therefore, I came up with the conclusion bahwa keluarga gue akan bisa lebih sejahtera dan senang if I could earn more money for them. Supaya gue bisa bantu biayai adik-adik yang sebentar lagi akan masuk kuliah tahun depan, bisa bayar orang untuk bantu-bantu jalankan UMKM eyang gue, supaya bisa support financial kedua orangtua gue, lalu sisanya ingin bisa membantu orang-orang yang membutuhkan di sekitar. Sebab gue pernah dengar dan belajar, bahwa ujian bagi seseorang itu sebetulnya bisa jadi ujian juga untuk kita. Apakah kita mau bantu seseorang itu untuk melalui 'ujiannya' atau nggak?

Lalu tulisan yang kedua, Don't Stop, berangkat dari kegelisahan gue yang merasa belum qualified enough untuk lulus dari jurusan yang gue tempuh. Gue merasa bodoh dan salah jurusan, karena nggak banyak ilmu yang bisa gue bawa sampai detik itu menjadi mahasiswi. 

Karena saat itu gue masih ingin mengejar cita-cita di bidang yang linear, maka dalam tulisan itu gue maksudkan (lebih tepatnya kepada diri sendiri) bahwa penting untuk kita kembali fokus dengan tujuan awal dan kembali menata rencana-rencana yang bisa kita susun saat diri kita tengah goyah dan kehilangan arah akan tujuan hidup kedepan. Tentunya dalam kasus gue adalah mencari metode belajar yang cocok, dan mengurangi intensitas penggunaan media sosial agar bisa lebih fokus, nggak lagi terdistraksi dengan bisingnya kehidupan internet. 

Hal yang sama juga gue terapkan pada podcast gue, Notes of Little Sister. Kalau teman-teman perhatikan, hampir semuanya mengarah pada kegelisahan dan bagaimana sebaiknya kita deal dengan itu (tentunya menurut diri gue sendiri), and yesss, semua topik itu nggak jauh-jauh dari kehidupan personal gue yang diharapkan bisa jadi salah satu sarana pengembangan diri untuk siapapun yang mendengar. Nanti gue akan posting khusus tentang podcast, bakal ada yang baca nggak yaa?πŸ˜†

Lihat juga: Manusia Lemah


Berawal Dari Kegelisahan (How to produce a creative content with Raditya Dika)

Kembali soal tips membuat konten dari Raditya Dika, selain mengambil inspirasi dari kegelisahan diri sendiri, tentunya kita juga bisa menjadikan kegelisahan yang kita miliki terhadap lingkungan sekitar sebagai ide konten. Dan tanpa disadari, ini cara yang sudah dilakukan banyak content creator untuk menghasilkan konten-konten yang menarik dan untuk menjangkau massa yang sesuai dengan segmentasinya masing-masing. 

Para content creator ini berbondong-bondong memproduksi konten berdasarkan kegelisahan dan isu-isu yang happening di kehidupan sosial kita. Misalnya aja isu kesehatan mental, pelecehan seksual, investasi bodong, sampai ke persoalan quarter life crisis. Masing-masing dari mereka menawarkan cara uniknya tersendiri untuk bisa melewati atau menemukan solusi bagi audiens dari berbagai permasalahan tersebut—and most of the time it helps

Yang paling menarik, nggak cuma konten dengan topik yang serius aja yang bisa diangkat dari keresahan publik, konten berjenis komedi atau hiburan pun masuk-masuk aja, lho. Contohnya yaa kayak video Bang Radit di atasπŸ˜†

So, buat yang sering kena writer's block, stuck dan kehabisan ide untuk menulis konten, mungkin bisa mencoba dengan breakdown satu per satu apa yang menjadi kegelisahan teman-teman. Dimulai dari skala yang paling kecil, yakni dalam diri, sampai skala yang terbesar. 

Kira-kira, ide konten apa aja sih yang udah teman-teman buat based on kegelisahan? Yuk, sharing!🀩






You May Also Like

4 komentar

  1. Raditya Dika memang mahaguru para kreator. Saya juga banyak belajar dari dia, termasuk belajar menulis.

    Soal konten dari keresahan, ini juga sepakat. Minggu lalu saya upload kumcer ke KaryaKarsa, hampir semua idenya dari keresahan. Kalau pos blog enggak selalu, kadang-kadang nulis pos karena mendadak terpicu aja, kayak misalnya habis lihat sesuatu di medsos.

    Sinarnya menarik. Udah sampai 13 episode juga ternyata. Sempat dengar dua episode (agak dilewat-lewat sih karena ini masih pagi dan saya pikir siniar Mbaknya lebih cocok didengar hampir-tengah-malam hehe), dan suara Mbaknya bagus. Nanti malam saya coba dengar utuh. Sekarang mau coba ubrak-abik isi blog ini dulu~

    Oh ya, salam kenal, Mbak.

    BalasHapus
  2. Awl~~~ how are you? Lama nggak muncul tulisan baru akhirnya muncul juga. Anyway karena dulu aku sering dengerin podcast Radit yang pendek-pendek, hal yang kamu tulis di atas sama persis dengan isi podcastnya: berangkat dari kegelisahan lalu jadi konten. Raditya Dika itu kreatif banget ya, kayak sesuatu yang orang lain belum lakukan tapi dia ngelakuin duluan. Terus cara menyampaikan tips-tipsnya juga nggak ribet.

    Waktu baca tulisan kamu ini, aku langsung inget beberapa tulisan lamamu yang emang kayaknya berangkat dari kegelisahan kamu sendiri. Jadi...intinya kamu udah menjalankan tips Radit secara nggak sadar ya. xD

    Oh iya, selamat Idulfitri Awl. Mohon maaf lahir dan batin~

    BalasHapus
  3. Waktu awal-awal aku buat blog ini, postingannya mostly dibuat karena adanya kegelisahan dalam diri terus disalurkan lewat tulisan πŸ˜‚. Habis selesai menulis 1 tulisan, eh kok rasanya enak ya, jadi lebih lega. Then jadilah beberapa postingan kegelisahan πŸ˜‚. Emang kayaknya paling mudah mengulik kegelisahan terus dijadikan bahan konten ya 🀣, tapi semakin ke sini aku malah takut kalau posting kegelisahan gitu, takut diajak debat wkwkwk. Sekarang kalau gelisah, tetap ditulis tapi beda aja medianyaa, jadi ke buku jurnal πŸ™ˆ

    BalasHapus
  4. Betul, aku sependapat dengan tulisanmu, karena pernah mengalami hal yang sama. Aku pernah dengar juga tapi lupa kata siapa, kalau gak salah dari komedian, pernah menjawab pertanyaan "darimana datangnya ide dan sumber inspirasi yang mereka dapatkan ketika membuat skenario. Jawabannya sama, ide-ide yang muncul kebanyakan bersumber dari kegelisahan yg mereka rasakan saat itu. Serupa dgn tulisan Awl, aku juga mengalami hal yg sama. Sewaktu membaca tulisanku dahulu kala, kebanyakan isinya didapat dari kecemasan/kegelisahan yang aku alami dan gak bisa tersampaikan dgn jelas alias aku pendam sendiri, akhirnya lahirlah sebuah tulisan yg isinya gak jauh beda sama unek-unek πŸ˜‚

    Tapi sekarang mah ya, apa aja bisa dijadikan konten, Awwwl wkwkwkk

    BalasHapus