Sulitnya Jadi Realistis

by - Juni 26, 2022

Sulitnya Jadi Realistis

Pada masa-masa menjelang akhir semester di perkuliahan, gue akhirnya menyadari bahwa gue adalah salah satu mahasiswa yang merasa salah jurusan. Bukan karena dipilihkan orangtua, bukan juga karena ikut-ikutan teman, tapi karena saat itu gue nggak punya pilihan lain untuk mengambil jurusan yang lebih "gue banget"—atau mungkin karena gue belum tahu pasti apa yang mau gue kejar.

Secara, gue hanya lulusan program Bahasa sewaktu di SMA, stereotip dan opsi yang ada untuk kami pun menjadi sangat mengerucut, nggak lain ujung-ujungnya kuliah bahasa, antropologi, atau ilmu komunikasi. Well, pilihan sebetulnya banyak, terbuka lebar. Gue bisa pilih bidang mana aja yang memang gue suka, as long as gue mampu menyaingi puluhan ribu pendaftar lainnya. Tapi mengingat gue harus realistis dengan kapasitas otak gue😄, pilihan itu pun meredup. 

Dulu, gue masih menganggap bahwa belajar bahasa asing adalah passion gue—yang gue rasakan saat belajar bahasa Korea secara otodidak, tapi nyatanya nggak berlaku untuk bahasa Jepang yang pelajaran kanjinya bikin kepala pusing bukan main. Nyatanya mempelajari suatu bahasa yang mana budayanya nggak familiar bagi kita merupakan cambuk tersendiri.

Sebagai yang bukan pecinta anime, idol Jepang, dan hal-hal lain yang berbau "jejepangan", bertemu dengan lingkungan yang seperti ini menjadi pertempuran tersendiri dalam batin gue. Karena ternyata ketertarikan itu bisa berbanding lurus dengan bertambahnya pengetahuan kita dalam berbahasa. 

Misalnya, sering nonton anime bisa menambah kosakata berbahasa Jepang kita, meskipun itu nggak dipakai untuk bahasa formal. Lalu menonton tayangan berbahasa Jepang di YouTube dan terjaring dengan teman orang asing melalui media sosial, juga bisa meningkatkan kemampuan berbicara, kosakata dan mengasah grammar kita dengan spontanitas yang baik.

Gue suka budaya Jepang, but not into their pop-culture. Gue lebih mengagumi alam mereka dan bagaimana kehidupan orang-orang disana. Mungkin karena gue nggak seambis itu dan hanya senang belajar, so when it comes to formal education, gue nggak bisa menemukan excitement itu lagi. 

Menyadari fakta itu (bahwa gue nggak merasa menemukan kenikmatan disana), keinginan gue untuk shift career setelah lulus pun menjadi semakin besar. Perlahan-lahan gue mulai mempelajari tentang digital kreatif. Keinginan ini muncul ketika gue serius ngeblog pertengahan tahun 2020 lalu. Mungkin ini satu-satunya sisi positif yang bisa gue syukuri dari invasi Covid-19. 

Gue jadi punya waktu lebih banyak untuk figure out tentang apa yang mau gue lakukan, dan apa yang cocok buat gue. Karena sejak saat itu, mulai banyak bermunculan bootcamp online untuk mereka yang mau mengembangkan skill di industri digital. Sesuatu yang align dengan hobi gue, yaitu menulis di internet. Gue belajar tentang SEO dan copywriting yang mana kedua cabang ini ada di bawah digital marketing. So I learned about digital marketing.

Mulanya susah, tapi gue coba jalani dengan santai karena gue yakin bidang ini lah yang mau gue tekuni. But now, having my career switch, malah membuat gue memikirkan lagi soal keputusan gue untuk mengejar karir di bidang yang berbeda. Gue kembali mempertanyakan diri sendiri, apakah ini sesuatu yang benar-benar ingin gue lakukan? Apakah berhenti belajar bahasa adalah kesalahan? Apa sih yang sebenarnya mau gue tuju? Penghasilan atau passion? Semua itu menyatu jadi tanda tanya besar,

"emang iya passion sepenting itu?"

Jika orang-orang bilang quarter life crisis adalah masa-masanya mencari goals dan dimana kita bisa fit in, mungkin disinilah diri gue berada sekarang. Di satu moment, gue merasa yakin banget dengan pilihan yang gue ambil. Tapi di sisi lain, gue merasa ragu bahwa pilihan yang gue ambil akan membawa gue ke sesuatu yang besar, sesuatu yang gue idam-idamkan, yang mana sisi realistis dari diri gue bilang bahwa bukan passion lah yang bisa memenuhi.

Di dunia dimana inflasi terus menaik seperti sekarang, gue belum bisa membayangkan sejauh mana passion ini bisa menghidupi gue. Walaupun, yah, usia gue masih muda dan masih panjang perjalanan yang akan gue tempuh kedepannya. Namun gue nggak mau menghabiskan waktu hanya dengan menebak-nebak kemana life maps gue. Kalau gue bisa tahu apa yang gue mau sekarang, maka gue akan kejar itu secepat yang gue bisa. 

Kadang gue masih nggak percaya, bahwa gue yang dulunya selalu mengagung-agungkan passion, sekarang malah penuh keraguan. Ternyata pengalaman sebagai orang dewasa bertahun-tahun ini menuntun gue menjadi seseorang yang teramat realistis, dan pemikiran soal passion adalah dampaknya.

Is it a sign that I'm growing up? Karena katanya, ragu itu bukan tentang salah atau benar. But it keeps us aware dengan segala kemungkinan yang terjadi di masa depan. Kewaspadaan dan pertimbangan-pertimbangan sebelum memutuskan sesuatu membuat kita bisa lebih bijak dan bertanggungjawab dengan pilihan yang kita ambil. I hope so

Menjadi seseorang yang terbiasa realistis, bikin gue meragukan idealisme diri sendiri. Mungkin karena gue sering ditampar dan dihadapkan dengan realita yang cukup pahit tentang bagaimana buah-buah pemikiran yang idealis dienyahkan begitu saja oleh orang-orang yang punya kuasa. Sebuah sikap yang akhirnya melahirkan skeptisisme di kalangan masyarakat kita, bahkan anak-anak muda yang cenderung dianggap sebagai agen perubahan dan otaknya idealisme. 

Yah, walaupun sampai detik ini gue masih belum tahu apa ini betul-betul jalan yang ingin gue lalui, dan akan seperti apa hidup gue 2 atau 3 tahun berikutnya. Namun yang gue yakini, gue hanya harus belajar dan belajar semaksimal mungkin. Dan seharusnya sudah jelas sekali untuk gue sadari bahwa hidup itu penuh perjuangan, nggak ada yang instan. Semua perlu dilakukan step by step, nggak bisa langsung terobos. 

Toh, menjadi realistis bukan berarti harus meninggalkan apa yang kita suka, dan apa yang kita ingin lakukan. Kalau bidang ini memberi gue ilmu baru dan pengalaman baru, kenapa nggak, kan?

You May Also Like

3 komentar

  1. "menjadi realistis bukan berarti harus meninggalkan apa yang kita suka, dan apa yang kita ingin lakukan" like this so much

    BalasHapus
  2. Kadang saya bingung kenapa sih Awl lebih sibuk mencoba mengkategorikan diri dalam satu kategori buatan manusia lain, seperti introvert, realistis, dst dst.

    Kenapa nggak mencoba melihat diri sendiri sebagai manusia saja tanpa harus menggolongkan diri dalam satu kelompok lain? Memang ada gunanya yah mengklaim diri masuk kategori ini dan itu.

    Apa ada kebanggaan kalau masuk kategori yang sama dengan yang lain?

    Cuma sekedar bertanya karena melihat banyak sekali anak muda gemar mengelompokkan diri dalam kelompok-kelompok atau kategori kategori yang sebenernya , menurut saya sih, tidak membantu perkembangan kita sebagai manusia juga

    BalasHapus
  3. keragu-raguan, cerita di awal paragraf adalah aku banget waktu masih kelas 3 SMA dulu
    mau pillih fakultas kedokteran tapi nggak yakin dan udah takut duluan kalau nantinya nggak keterima. Padahal udah ada 3 pilihan fakultas di sistem SPMB waktu itu. Kalau misalnya pilian 1 ga diterima, otomatis akan "dibuang di pilihan ke 2"
    waktu masa kuliah, sempet juga berpikir "ini kayaknya bukan aku, apakah nanti waktu lulus aku bisa jadi sukses dengan pilihan ilmuku".
    seiring waktu, dijalani prosesnya sampe sekarang ini
    dan mencoba menerima pilihanku sendiri

    BalasHapus