Belajar Nggak Neko-Neko

by - Juni 25, 2022

Belajar Nggak Neko Neko


Sore tadi gue habis cerita-cerita dengan doi tentang beberapa kesamaan yang kami punya pada saat kecil hingga remaja. Berhubung hari ini, di linimasa media sosial gue lagi ramai banget oleh teman-teman yang adik atau murid-muridnya sedang melangsungkan acara perpisahan dan kenaikan kelas. Lalu gue bercerita, bahwa dulu pada saat SD sampai SMA, gue nggak pernah menyewa kebaya sama sekali, karena selalu ada kebaya turunan dari tante gue yang bisa dipakai. 

Bahkan, pada saat perpisahan SD, gue sama sekali nggak datang ke acara samenan (lebih tepatnya gak mau datang), karena emak gue nggak mempersiapkan apa-apa seperti halnya kebanyakan orangtua teman-teman gue yang kelimpungan mencari jasa MUA atau sewa kebaya dari jauh-jauh hari. Selain karena masih ada kebaya bekas tante gue di koper, mungkin orangtua gue saat itu berpikir bahwa it doesn't really necessary bayar jasa make-up hanya untuk acara yang berlangsung beberapa jam. Apalagi menyadari fakta bahwa NEM gue anjlok, rasanya makin nggak bersemangat lah gue menghadiri acara yang nyatanya hanya satu kali seumur hidup itu.

Kemudian, doi juga cerita bahwa dia punya pengalaman yang sama tentang acara perpisahan di sekolah. Sejak SD hingga SMA, dia nggak pernah disewakan pakaian khusus—kecuali saat kelas 6 SD, karena saat itu dia jadi pengantin di acara tersebut. Sekilas info, bagi yang mungkin budaya perpisahan di sekolahnya berbeda, di daerah gue tuh kalau ada siswa dan siswi yang punya nilai tertinggi satu angkatan, pasti akan dipasangkan dan nantinya menjadi "pengantin" yang diiringi oleh penari-penari tradisional sebagai salah satu rangkaian pembuka acara. Nah, pada saat itu, doi jadi pengantin siswa, dan mau nggak mau disewakan pakaian adat khusus. Itupun dia bilang, kalau yang membantu menyewakan adalah orangtua murid yang lain, since orangtuanya kurang tahu soal sewa menyewa pakaian adat. 

Sisanya, dari SMP sampai SMA, dia selalu pakai jas milik ayahnya dan celana sekolah seperti biasa setiap kali acara perpisahan—kurang lebih sama seperti gue. Pada saat itu, mungkin gue pikir orangtua gue terlalu cuek dan nggak peduli sama kegiatan sekolah anaknya. 

Setelah beranjak dewasa, gue pikir orangtua kami bukannya nggak peduli, tapi ingin mengajarkan kami untuk hidup sederhana, nggak menyia-nyiakan barang dan bisa memanfaatkan apa yang kita miliki tanpa harus keluar uang lebih (bet I'm just too deep in interpreting their action? LOL. Barangkali ortu gue memang nggak suka ribet aja seperti anaknya sekarang yang apa-apa maunya simple😆🤪).

Namun dari pengalaman itu, gue jadi berpikir, secara nggak sadar hal-hal seperti itu memupuk gue menjadi seseorang yang apa adanya, yang nggak neko-neko, yang nggak mau hidup dalam kepura-puraan, dan yang nggak takut kalau terlihat "berbeda" di saat orang lain melakukan hal yang sama. Kalau dikaitkan dengan fenomena saat ini, mungkin fear of missing out adalah frasa yang paling tepat. 

Dalam beberapa kesempatan, somehow gue lebih tenang menjadi seseorang yang "missed out" dari hiruk pikuk media sosial dan segala trending topic-nya. Meski gue pernah ada di lingkaran yang serba update ketika gue main medsos dalam satu hari penuh, tapi saat gue menjauh dari sana, I don't feel distracted.

Soal cara berpakaian pun, gue masih mengenakan pakaian yang gue beli tiga sampai empat tahun yang lalu, dari mulai sepatu, baju, celana, jilbab, hingga jam tangan sekalipun. Gue jadi tahu betapa pentingnya hidup minimalis dan memanfaatkan barang yang gue punya. Mungkin pengalaman soal gue yang nggak pernah menyewa kebaya itu nggak langsung affect the way I lived at the moment.

Gue harus mengalami dulu yang namanya hidup menyesal karena boros😂, gue juga harus terpapar terlebih dahulu dengan fakta-fakta pahit tentang bumi kita yang menimbun sampah tekstil berton-ton. But it's undeniable bahwa kebiasaan tersebut secara tidak langsung juga memberi andil terhadap keputusan gue untuk hidup sesederhana mungkin.

Kalau dulu gue dibiasakan untuk selalu mengikuti garis yang orang lain lalui, dibelikan ini itu, diajarkan flexing dan iri dengki apabila ada teman sekelas yang punya barang bagus (jujur pasti ada orangtua/teman yang panasan kayak gini di sekolah🤣), besar kemungkinan sekarang gue jadi seseorang yang selalu memaksakan kehendak. BUT, bukan berarti anak yang dididik demikian bertumbuh menjadi seseorang yang hedon dan boros juga. People grow, right? Gue hanya mengasumsikan hal tersebut untuk diri gue sendiri.

Ternyata hidup sederhana itu bisa datang dari kebiasaan-kebiasaan yang nggak kita sadari. Bahkan mungkin sedari kecil, seperti yang gue dan doi alami. Gue jadi mengerti, bahwa kita selalu punya pilihan untuk hidup sesuai apa yang kita mau tanpa harus memikirkan pendapat orang lain--tentu selama hal tersebut nggak keluar dari norma-norma yang ada. Gue pun jadi bisa merasakan betapa nikmatnya saat kita bisa hidup nyaman tanpa takut merasa ketinggalan zaman. Mungkin dua hal yang bikin gue takut tertinggal cuma ilmu pengetahuan dan teknologi.

Belajar nggak neko-neko menurut gue sangat diperlukan di era yang apa-apa serba up-to-date ini. Karena kalau nggak, kita bisa dengan mudahnya terseret arus. Merasa harus terus mengikuti trend yang ada, atau takut nggak punya teman karena terlihat kuno dan nggak gahol. Padahal dengan perputaran yang begitu cepat seperti sekarang rasanya sulit untuk kita bisa ada di dalamnya tanpa merasa exhausted. Yah, paling tidak, itu yang gue rasakan.

Hidup nggak neko-neko juga terkadang bisa membuat kita terhindar dari konflik dengan orang lain. Karena orang yang nggak macam-macam biasanya nggak suka menimbulkan keributan. Sekali aja nge-handle satu orang yang bermasalah dengan dia, rasanya dunia ikut jadi penonton and there is no peace at all! (iya, kayaknya gue curhat deh). Makan jadi nggak tenang, tidur nggak tenang. Kemana pun kita pergi, rasanya semua orang adalah teman dari orang yang memusuhi kita. 

Well, itu juga kan yang sering terjadi di dunia maya sekarang ini? Si A curhat sedikit tentang orang lain, si B merasa tersindir, dan terjadilah ghibah online di grup chat masing-masing gengs😂 Semoga sih teman-teman semua dijauhkan dari ribut online semacam ini ya. 

So, untuk teman-teman sebaya gue yang mungkin sedang mengalami fase FOMO, menurut gue it's okay untuk hidup apa adanya dirimu tanpa harus sama seperti orang lain. Kadang-kadang apa yang kita lihat di dunia maya itu hanya etalase. Luarnya saja indah, dalamnya? Hati manusia dan segala kelumit kisah mereka nggak ada yang tahu kecuali Pencipta-nya sendiri. 

Percayalah, belajar hidup sederhana dan nggak neko-neko akan membuat kita bisa lebih memaknai hidup dan segala apa yang kita miliki saat ini. Karena kata Chitato hidup itu never flat, let's enjoy our life as much as we can and don't make it hard on yourself with unnecessary things😉

You May Also Like

2 komentar

  1. Terkadang berada di sisi JOMO (joy of missing out) itu memang membuat lebih tenang ya, Awl. Aku juga sejak menyadari bahwa you can't get everything you want, just because you want it belasan tahun yang lalu, lebih sering memilih buat 'menikmati' ketertinggalan.

    Bagusnya, aku jadi lebih wise dalam menghadapi trend dan arus informasi yang semakin deras aja ini. Tapi, kadang ada saat-saat di mana aku merasa, JOMOku sudah sampai ke titik apatis, yang untuk hal-hal tertentu jatuhnya malah merugikan.

    Memang pada akhirnya harus balance, ya... :)

    BalasHapus
  2. Ini kenapa relate sama aku dibagian, harus menyesal dulu kalau ternyata udah boros 😀. Aku pernah ngalami ini, dipikir-pikir,aku sendiri bingung boros dimananya, perasaan sehari-hari itu itu aja, ehhh tau tau dompet cekak hahahaha



    Kayaknya dulu waktu perpisahan sekolah di zamanmu ga ada pengantin-pengantinan, tapi lucu juga ya kalau ada sekolah yang punya tradisi kayak gitu

    BalasHapus